PT KA Petakan Daerah Rawan

Kompas.com - 09/09/2008, 19:53 WIB

SURABAYA, SELASA - Selama masa lebaran, PT Kereta Api Daerah Operasional VIII Surabaya memetakan beberapa daerah rawan kecelakaan. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan perjalanan, PT Kereta Api menyiapkan peralatan material di lima stasiun.

PT Kereta Api Daerah Operasional VIII Surabaya (PT KA Daop VIII) memprediksi beberapa daerah rawan kecelakaan, seperti tanah labil, tanah longsor, banjir, pencurian, dan pelemparan batu. Beberapa daerah yang memiliki potensi kelabilan tanah yaitu lintasan antara stasiun Baworno-Stasiun Pucuk di Kabupaten Lamongan, tanah longsor di jalur Stasiun Kesamben-Stasiun Ngebruk jurusan Kota malang-Blitar, Stasiun Singosari-Stasiun Lawang di Malang, serta Stasiun Wonokerto-Stasiun Bangil di Pasuruan.

Sementara itu, karena masa lebaran jatuh pada bulan Oktober, dimungkinkan pula potensi terjadinya banjir akibat curah hujan yang mulai tinggi. Daerah yang berpotensi banjir adalah jalur Stasiun Garum-Stasiun Talun di Blitar, dan Stasiun Porong-Stasiun Tan ggulangin di Sidoarjo.

"Untuk daerah-daerah rawan tersebut, PT KA menyediakan alat material untuk siaga (Amus). Amus disiapkan di lima stasiun, yaitu Stasiun Babat, Stasiun Kandangan, Stasiun Pasar Turi, Stasiun Mojokerto, dan Stasiun Bangil," kata Kepala Humas PT Kereta Api Daerah Operasional VIII Surabaya, Sugeng Prijadi, Selasa (9/9) di Surabaya.

Sebagai antisipasi, PT KA menyiapkan tiga macam alat material, yaitu batu pecah, bantalan rel, dan leger jembatan atau jembatan darurat. Di lima stasiun tersebut, disiapkan masing-masing 10 hingga 12 gerbong batu pecah, 200 batang bantalan rel, dan beberapa leger jembatan.

Menurut Sugeng, selain menyiapkan material, PT KA juga menyediakan kereta penolong di beberapa stasiun, yaitu Babat, Pasar Turi, Sidotopo, Malang, dan Blitar. "Jika sewaktu-waktu ada kerusakan kereta, kami menyiagakan delapan karyawan untuk perbaikan rel, jembatan, sarana KA, dan sinyal operasi," ujarnya.

Penambahan personel juga dilakukan PT KA dengan menambah juru penilik jalan sebanyak 151 orang dari jumlah petugas reguler biasanya yaitu 106 orang. Jika petugas reguler bertugas pada dini hari hingga pagi hari, maka petugas tambahan bekerja pada saat siang hari hingga sore hari.

Untuk menunjang kesehatan penumpang, fasilitas posko kesehatan juga disiagakan di beberapa stasiun, seperti Babat, Turi, Gubeng, Malang, Bangil, Sidoarjo, Wonokerto, Mojokerto, dan Blitar.

Perhatikan kesiapan

Direktur Eksekutif Indonesian Railway Watch, Taufik Hidayat mengatakan, menanggapi tingginya permintaan masyarakat terhadap kebutuhan transportasi, PT KA terus menambah daya angkut KA melalui penambahan kereta-kereta baru. Taufik mengharapkan, penambahan kereta tambahan harus benar-benar melalui pengujian kelayakan jalan dan mengutamakan keselamatan penumpang.

"Penambahan kereta pasti akan berdampak pada padatnya arus keberangkatan kereta dan berpotensi pada keterlambatan kedatangan kereta. Petugas-petugas harus disiagakan agar siap menghadapi perubahan ini," ujarnya.

Menurut Taufik, penambahan sarana KA dapat dilakukan, namun PT KA jangan terlalu memaksakan diri dengan keterbatasan infrastruktur kereta yang ada. "Akhir-akhir ini sering terjadi kereta anjlok. Ini harus menjadi pelajaran bersama. Potensi peningkatan penumpang memang besar tetapi keselamatan tetap harus diutamakan," tegasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau