Awas, Banjir Makin Tinggi

Kompas.com - 09/09/2008, 21:39 WIB

Laporan wartawan Kompas Christoporus Wahyu Haryo P

PONTIANAK, SELASA- Hujan lebat yang masih mengguyur sejumlah wilayah di timur Kalimantan Barat hingga Selasa malam (9/9) ini mengakibatkan luapan Sungai Kapuas dan sejumlah anak sungai yang bermuara di sana semakin meninggi. Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) Pontianak memperingatkan adanya kemungkinan banjir yang lebih besar karena hujan dengan intensitas dan curah hujan yang tinggi, berpeluang terjadi di daerah hulu Sungai Kapuas tersebut.

Kepala BMG Pontianak Bambang Hagiono mengatakan, musim peralihan di bulan September ini curah hujan di Pontianak dan sekitarnya berkisar 200-300 mm, sedangkan di daerah hulu Sungai Kapuas berkisar 300-400 meter. Meski curah hujan itu tergolong sedang, banjir bisa terjadi karena intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir cukup tinggi.

"Curah hujan maupun intensitas hujan pada bulan Oktober mendatang diperkirakan lebih tinggi dari bulan September. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu menyiapkan mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi bencana banjir yang lebih luas," katanya.

Hingga Selasa sore tadi, genangan banjir di sejumlah daerah di Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, dan Melawi masih berkisar 1-1,5 meter. Banjir di Kecamatan Nanga Bunut dan Jongkong yang semula hanya berkisar satu meter, pada Selasa pagi terus naik hingga ketinggian air mencapai 1,5 meter. Ratusan hektar tanaman padi dan kacang di sana yang terendam banjir, hampir dipastikan akan mengalami puso.

Warga yang tinggal di dataran rendah sudah bersiap-siap mengungsi ke rumah tetangga atau saudara yang lebih tinggi, kata Nur Asikin (30), warga Nanga Bunut.

Ika (30), warga Desa Jongkong Kanan, Kecamatan Jongkong, mengatakan, sebagian warga di sana yang rumahnya berlantaikan tanah mulai mengungsi ke kerabat atau tetangganya yang memiliki rumah panggung. Sebagian di antara mereka juga membuat lanting-lanting darurat untuk tempat mengungsi puluhan ternak sapinya.

"Kami khawatir banjir terus naik karena hampir tiap malam masih turun hujan. Jika terus-terusan seperti ini, warga kesusahan karena tidak bisa menoreh getah karet atau menuai padi di ladang," katanya.

Meski hari selasa hujan tidak mengguyur Kabupaten Melawi, genangan air di sana masih bertahan sekitar 1,5 meter. "Kemungkinan di daerah hulu masih turun hujan sehingga sungai tidak kunjung surut," kata Midi Amin (44) , warga Nanga Pinoh, Melawi.

Aktivitas warga di Nanga Pinoh masih terganggu. Sekolah masih diliburkan dan pasar tradisional yang berada di dataran rendah tidak beroperasi. Layanan publik di sejumlah kantor pemerintah juga terganggu karena terendam banjir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau