Laporan wartawan Kompas Christoporus Wahyu Haryo P
PONTIANAK, SELASA- Hujan lebat yang masih mengguyur sejumlah wilayah di timur Kalimantan Barat hingga Selasa malam (9/9) ini mengakibatkan luapan Sungai Kapuas dan sejumlah anak sungai yang bermuara di sana semakin meninggi. Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) Pontianak memperingatkan adanya kemungkinan banjir yang lebih besar karena hujan dengan intensitas dan curah hujan yang tinggi, berpeluang terjadi di daerah hulu Sungai Kapuas tersebut.
Kepala BMG Pontianak Bambang Hagiono mengatakan, musim peralihan di bulan September ini curah hujan di Pontianak dan sekitarnya berkisar 200-300 mm, sedangkan di daerah hulu Sungai Kapuas berkisar 300-400 meter. Meski curah hujan itu tergolong sedang, banjir bisa terjadi karena intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir cukup tinggi.
"Curah hujan maupun intensitas hujan pada bulan Oktober mendatang diperkirakan lebih tinggi dari bulan September. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu menyiapkan mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi bencana banjir yang lebih luas," katanya.
Hingga Selasa sore tadi, genangan banjir di sejumlah daerah di Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, dan Melawi masih berkisar 1-1,5 meter. Banjir di Kecamatan Nanga Bunut dan Jongkong yang semula hanya berkisar satu meter, pada Selasa pagi terus naik hingga ketinggian air mencapai 1,5 meter. Ratusan hektar tanaman padi dan kacang di sana yang terendam banjir, hampir dipastikan akan mengalami puso.
Warga yang tinggal di dataran rendah sudah bersiap-siap mengungsi ke rumah tetangga atau saudara yang lebih tinggi, kata Nur Asikin (30), warga Nanga Bunut.
Ika (30), warga Desa Jongkong Kanan, Kecamatan Jongkong, mengatakan, sebagian warga di sana yang rumahnya berlantaikan tanah mulai mengungsi ke kerabat atau tetangganya yang memiliki rumah panggung. Sebagian di antara mereka juga membuat lanting-lanting darurat untuk tempat mengungsi puluhan ternak sapinya.
"Kami khawatir banjir terus naik karena hampir tiap malam masih turun hujan. Jika terus-terusan seperti ini, warga kesusahan karena tidak bisa menoreh getah karet atau menuai padi di ladang," katanya.
Meski hari selasa hujan tidak mengguyur Kabupaten Melawi, genangan air di sana masih bertahan sekitar 1,5 meter. "Kemungkinan di daerah hulu masih turun hujan sehingga sungai tidak kunjung surut," kata Midi Amin (44) , warga Nanga Pinoh, Melawi.
Aktivitas warga di Nanga Pinoh masih terganggu. Sekolah masih diliburkan dan pasar tradisional yang berada di dataran rendah tidak beroperasi. Layanan publik di sejumlah kantor pemerintah juga terganggu karena terendam banjir.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang