PT Bukit Asam Akan Bangun Rel Ganda 283 Km

Kompas.com - 10/09/2008, 17:56 WIB

BANDAR LAMPUNG, RABU - PT Bukit Asam Tbk atau PT BA bersiap menginvestasikan Rp 10 triliun untuk membangun jalur rel kereta api ganda dari Tanjung Enim Sumatera Selatan ke Srengsem Bandar Lampung. Jalur ganda tersebut rencananya dibangun untuk mendukung angkutan 20 juta ton batu bara per tahun di luar angkutan batu bara oleh PT KA.

Amir Faishol, Senior Manager Pengembangan Usaha PT Bukit Asam, Rabu (10/9) dalam acara paparan pembangunan rel ganda dengan jajaran Pemprov Lampung, Dinas Perhubungan Lampung, dan PT KA Subdivre III.2 Tanjungkarang, mengatakan, selama ini dengan menggunakan rangkaian kereta batu bara rangkaian panjang atau babaranjang milik PT KA, setiap hari sebanyak 20.00024.000 ton batu bara atau sebanyak 7,5 juta ton batu bara mampu diangkut dari Tanjung Enim Sumatera Selatan ke Tarahan Lampung.

Rencana peningkatan angkutan batu bara dengan menggunakan infrastruktur milik PT KA Divre III Sumatera Selatan hanya mampu menambah jumlah angkutan batu bara sebanyak lima juta ton, sehingga per tahun sebanyak 12,5 juta ton batu bara bisa diangku t dari Tanjung Enim ke Tarahan.

Padahal, permintaan batu bara ke depan sebagai pengganti BBM diprediksi akan sangat tinggi. Di antaranya untuk mendukung bahan bakar pembangkit-pembangkit listrik 10.000 MW yang direncanakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pertimbangan tingginya permintaan batu bara mendorong PT BA membuat perusahaan patungan. Yaitu antara PT BA, PT Transpacific Railways, dan China Railway Engineering Corporation (CRE C). Melalui patungan tersebut lahir PT Bukit Asam Transpacific Railways yang akan membangun dan mengoperasikan jalan rel baru dan angkutan batu bara. "Sekitar 70 persen modal dimiliki CREC dan 30 persen merupakan modal dalam negeri, " ujar Amir.

Presiden Direktur PT Bukit Asam Transpacific Railways Nurharjanto pada paparan tersebut mengatakan, s tudi kelayakan yang dilakukan sejak empat tahun yang lalu menunjukkan adanya kebutuhan pembangunan jalan kereta baru untuk mendukung upaya peningkatan angkutan 20 juta ton per tahun dan melengkapi jalan rel yang sudah ada sepanjang 410 kilometer. Jalan rel yang baru direncanakan hanya berjarak 283 kilometer atau lebih pendek 127 kilometer dibandingkan dengan panjang rel lama.

Jalur rel lama lebih panjang karena melalui titik Tanjung EnimPrabumulihBaturaja baru memasuki wilayah Provinsi Lampung. Jalur baru nanti direncanakan dari Tanjung Enim langsung ke Baturaja tanpa melalui Prabumulih sehingga jalan rel lebih pendek menjadi hanya 65 kilometer.

Selain itu, jalur baru tersebut juga akan dibangun dengan cara meminimalkan perlintasan dengan j alur kereta api yang sudah ada, ataupun dengan jalan provinsi/jalan nasional. "Kami akan membangun sejumlah terowongan dna jembatan untuk memperlancar angkutan batu bara," ujar Nurharjanto.

Kereta angkutan batu bara yang baru direncanakan tidak akan menuju stock pile atau lapangan penampungan batu bara PT Bukit Asam di Tarahan, Lampung Selatan, melainkan menuju Srengsem, Panjang, Bandar Lampung yang mampu menampung dua juta ton batu bara. Sebetulnya kedua stock pile tersebut terletak berdekatan dan tepat di dekat Pelabuhan ekspor impor Panjang.

Namun kolam Pelabuhan Srengsem memiliki kedalaman kolam yang lebih dalam dibandingkan kolam pelabuhan Tarahan. Sehingga kapal-kapal berbobot besar antara 25.000 DWT sampai dengan 150.000 DWT bai bersandar dan memuat batu bara di dermaga Srengsem, ujar Nurharjanto.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Biro Bina Produksi dan Perekonomian Pemprov Lampung Masri Yahya mengingatkan PT Bukit Asam, pembangunan jalan rel baru tersebut tidak diperbolehkan melewati hutan lindung. Sementara perusahaan juga harus memperhitungkan pembebasan lahan yang sekarang ini menjadi permukiman warga.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau