Saksi AKKBB: Tidak Ada Suara Tembakan

Kompas.com - 10/09/2008, 20:16 WIB

JAKARTA, RABU - Tidak ada suara tembakan dalam insiden 1 Juni di Monas. Demikian keterangan saksi Nasir Ahmad yang didatangkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan kasus Monas dengan terdakwa Munarman di PN Jakarta Pusat, Rabu (10/9).

Tentu saja hal ini bertentangan dengan keterangan beberapa orang saksi dalam persidangan kasus yang sama dengan terdakwa Habib Rizieq. Sebelumnya, dua orang Laskar Pembela Islam (LPI) mengatakan terdengar bunyi tembakan dalam insiden Monas meski belum terlalu jelas jumlah tembakan dan waktu terdengarnya, apakah setelah atau sebelum pemukulan oleh rombongan LPI kepada anggota AKKBB.

Menurut Nasir, serangan itu datang begitu saja dari sekelompok massa ketika rombongan AKKBB sedang berkumpul di bawah Monas untuk menunggu bubarnya massa PDI-P di depan Istana Presiden.

"Deket pintu masuk dekat gambir dan kita masuk ke sana. Di depan PDI-P kan sedang bubar. Kan udah ada temen-temen yang sudah datang tersebar, pada nunggu jadi ngumpul di bawah Monas. Ada serombongan massa datang melakukan serangan," ujar Nasir.

Menurut Nasir, justru sesaat setelah dia dan rekannya Yakobus Edi Juwono mengevakuasi perempuan dan anak-anak, terdakwa Munarman yang mengenakan baju dan celana berwarna hitam memukuli Yakobus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau