Penemu Super Toy Mengaku Tapa Mbisu

Kompas.com - 11/09/2008, 03:54 WIB

 

Di tengah kontroversi benih padi calon varietas Super Toy HL-2, sosok Tauyung Supriyadi (30), petani pemulia pembuat benih padi itu seolah ”ditelan bumi”. Keberadaan pemuda asal Desa Wonoerjo II, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta itu tidak diketahui oleh keluarga dan tetangganya.

Namun, Tauyung mengaku tidak sepenuhnya menghilang. Ia hanya ingin ”menyepi” sebentar setelah hampir kehilangan percaya diri karena benih yang diciptakannya gagal panen di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Namun, rasa pesimistis itu perlahan ditepisnya.

”Saya pusing dengan geger benih padi buatan saya. Saya sedang topo mbisu, (puasa bicara)” ujar Tauyung, melalui pesan singkat kepada Kompas, sebelum akhirnya, ia bersedia dihubungi melalui telepon, Rabu (9/9).

Pertanian pasti bukan hal asing bagi Tauyung. Terlahir dari keluarga petani, Tauyung belajar bertani sejak kecil. Namun, dunia itu baru ia geluti secara total sekitar 12 tahun lalu.

Keinginan Tauyung membuat benih berawal setelah Yogyakarta dilanda gempa. Gempa yang memorakporandakan tanah kelahirannya itu membuat banyak warga dan anak-anak menjadi pengemis. Tauyung lantas terpanggil hatinya untuk membuat benih padi baru yang bisa meningkatkan produktivitas petani.

Pria lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) 2 Yogyakarta itu kemudian melakukan penelitian benih padi dengan didanai PT SHI.

Bulan November 2006, ia menghasilkan benih padi yang diberi nama Super Toy HL-1. Penelitian dilanjutkan dengan menyortir turunan terbaik benih Super Toy HL-1 yang sudah ditanam. Benih hasil seleksi itu diberi nama Super Toy HL-2.

Benih Super Toy HL-2 adalah hasil persilangan dari benih varietas padi penghasil beras rojolele dan pandan wangi. Proses persilangan benih dilakukan melalui beberapa tahap, di antaranya teknologi enzim, penyilangan air, dan pencucian akar.

Benih padi calon varietas Siper Toy HL-2 hasil temuannya itu dijadikan proyek percontohan penanaman padi di Kabupaten Purworejo. Pada tahun 2007, proyek penanaman dimulai di Desa Grabag, Kecamatan Grabag, pada areal seluas 103 hektar dan ditangani oleh PT SHI.

”Benih itu merupakan benih turunan kelima hasil persilangan,” tutur Tauyung.

Tak mau menonjol

April lalu, sewaktu panen perdana padi Super Toy di Desa Grabag, sosok Tauyung nyaris tersembunyi di antara deretan petinggi-petinggi negara yang hadir, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Benih padi calon varietas Super Toy HL-2 diperkenalkan sebagai varietas baru yang memiliki keunggulan, di antaranya dapat dipanen tiga kali setahun tanpa menanam ulang bibit.

Batang padi sisa panen cukup ditebas dan disisakan batangnya dengan panjang kurang lebih 3 sentimeter dari permukaan tanah. Batang sisa tebasan tersebut akan tumbuh kembali dan siap panen dalam waktu 96 hari. Batang padi yang sudah dua kali panen itu ditebas kembali pascapanen dan akan tumbuh serta siap panen setelah 90 hari.

Sembilan syarat

Ditemui sesudah keriaan panen raya, pria berkulit gelap itu mewanti-wanti, setidaknya ada sembilan syarat yang harus dipenuhi agar benih padi itu berhasil ditanam dan sesuai dengan yang dicanangkan, dapat dipanen tiga kali selama setahun tanpa menanam ulang.

Syarat itu meliputi pencahayaan yang cukup, tanah tempat bertanam memiliki keasaman (PH) yang ideal yakni 6-7, kebutuhan air tercukupi, kebutuhan nutrisi dan pupuk tercukupi, tingkat kesuburan tanah, jarak tanam, cara bertanam yang baik, pengendalian hama dan penyakit, dan keuletan petani.

Selain itu, benih padi itu masih membutuhkan banyak penyempurnaan dan pembenahan. Itulah sebabnya, ia mengaku sedang membuat benih padi Super Toy HL-3, HL 3A, dan HL 3B yang merupakan hasil perbaikan dan seleksi benih terbaiknya.

"Benih padi ini masih membutuhkan pembenahan-pembenahan dalam hal kualitas. Selain itu, cara budidaya petani juga harus terus dibenahi, sehingga klop," kata Tauyung.

Namun, kegagalan panen kedua benih padi Super Toy HL-2 bulan September di sawah seluas 96,2 hektar membuat Tauyung berpikir ulang untuk memperkenalkan benih-benih temuannya, yakni Super Toy HL 3, 3A, dan 3 B.

Baginya, untuk memperkenalkan benih padi baru, tidak hanya diperlukan sertifikasi benih, tetapi juga kesiapan dan dukungan pemerintah dalam pendampingan terhadap petani tentang pola tanam dan cara bertanam yang baik.

"Saya tidak pernah memaksa orang untuk menerima benih hasil temuan saya. Kalau menurut orang lain (benih) itu salah, buang saja. Tetapi, kalau orang meyakini (benih) itu baik, maka tidak ada salahnya untuk dicoba," ujar pria pernah bekerja di perusahaan benih milik pengusaha Korea.

Tauyung mengatakan, ia telah mengajukan benih Super Toy HL-2 untuk melalui uji sertifikasi ke Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Surabaya. Pengajuan itu dilakukan sekitar tiga bulan lalu. Sejauh ini, pengajuan Tauyung yang didampingi PT SHI tersebut belum mendapat jawaban.

Butuh Pembuktian

Bagi Tauyung, program pemerintah untuk melakukan revolusi pertanian dan menciptakan kedaulatan pangan nasional hingga kini masih belum dibuktikan dengan upaya nyata. Di antaranya, pembuatan benih-benih padi unggulan yang baru.

Benih-benih padi baru itu tidak hanya ditujukan untuk areal sawah irigasi, melainkan seluruh jenis sawah, seperti sawah lebak, tadah hujan, dan gambut. Hal itu karena jenis sawah di Indonesia sangat bervariasi.

Selain itu, perlunya dukungan pemerintah untuk memberikan arahan tentang cara dan pola bertanam yang baik.

”Saya dendam melihat produksi padi belum sesuai harapan, meskipun kita punya benih padi unggulan. Harapan saya, kita menemukan jalan untuk menciptakan swasembada pangan,” tutur Tauyung yang gaya bicaranya ceplas-ceplos ini.

Meski benih padi buatannya masih perlu diuji, Tauyung mengaku tidak kapok melanjutkan penelitian. Baginya, benih padi Super Toy HL-2 merupakan benih yang baik, namun tidak ada salahnya untuk terus mencari yang terbaik

”Saya tidak akan berhenti. Saya masih melanjutkan penelitian di laboratorium supaya pertanian ini tidak dipandang sebelah mata,” tutur Tauyung yang hingga kini masih tercatat sebagai staf peneliti PT SHI. (Lukita Grahadyarini)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau