SURABAYA, KAMIS - Belum genap dua pekan, empat penjahat telah ditembak mati oleh anggota Reskrim Idik I Polwiltabes Surabaya. Penembakan pertama terjadi pada Jumat (29/8) di Jalan Lingkar Timur Sidoarjo yang menewaskan Rahmat (27) dan Puji (27), keduaanya asal Pasuruan.
Rabu (10/9) kemarin giliran dua perampok ditembak mati, yakni Sudarmadji (47), warga Gundih, Kecamatan Bubutan, Surabaya, dan Sugeng Hariyadi alias Didik (36), warga Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya.
Spesialis perampok yang modusnya selalu memasang paku di ujung sandal di kakinya ini ditembak mati di Jalan Margorejo Indah, depan Biliar Player, saat mencoba merampas uang Rp 10 juta milik sebuah koperasi simpan pinjam Medokan Ayu, Rungkut.
Modus mereka, ranjau yang terbuat dari lempengan baja setebal 1 mm dan panjang 3-4 cm itu dilipat menjadi dua, kemudian dipasang di ujung sandal Didik di kaki sebelah kanan. Didik lalu mengarahkan sandal beranjau itu ke ban belakang kiri mobil korban ketika jalanan macet.
Mobil yang jadi korban adalah Suzuki Carry merah L 2140 ZA yang ditumpangi Daniel (28) dan Betty Anastasia Wulandari (28), karyawan koperasi simpan pinjam Medokan Ayu.
Begitu ranjau di ujung sandal terlindas ban mobil, angin yang ada di ban tidak langsung habis, tapi mobil masih bisa berjalan sekitar 500 meter-700 meter. Didik dan Sudarmadji yang berboncengan sepeda motor kemudian menguntit mobil tersebut. Di belakang mereka ikut menguntit dua pelaku lainnya yang juga berboncengan sepeda motor.
Setelah ban gembos korban menghentikan mobilnya. Daniel dan Betty kemudian turun dan mengganti ban. Pada saat itulah tersangka Sudarmadji turun dan mengambil tas milik korban yang berisi uang Rp 10 juta di jok depan.
Melihat orang asing masuk mobilnya, Betty dan Daniel sontak berteriak. Bersamaan dengan teriakan itu, lima petugas berpakaian preman anak buah Kanit Idik I Polwiltabes Surabaya AKP Arbaridi Jumhur yang saat itu tengah patroli memergoki aksi mereka. Seorang petugas memberikan tembakan peringatan.
Namun, karena aksi masih berlangsung polisi kemudian mengarahkan tembakan ke kaki kanan Sudarmadji. Namun, Sudarmadji masih berusaha lari menuju motor Honda Revo L 4396 yang ditumpangi Didik. Polisi lainnya kemudian mengarahkan dua tembakan ke dada Sudarmadji yang tewas seketika dengan posisi memeluk ban mobil Suzuki Carry sebelah kanan depan.
Melihat temannya bersimbah darah, Didik tancap gas ke arah timur. Namun polisi dengan cepat mengarahkan moncong revolver ke dada Didik hingga terlempar dari motor Honda Revo dan tewas di TKP. Sementara dua pelaku lainnya yang menumpang sepeda motor lainnya langsung tancap gas ke arah timur.
Kasat Reskrim Polwiltabes Surabaya AKBP Syahardiantono didampingi Kanit Idik I AKP Arbaridi Jumhur menjelaskan, Didik dkk sudah menguntit sejak Betty dan Daniel keluar dari BNI Jalan Rajawali hingga korban melalui ruas Jalan Veteran, Jalan Tunjungan, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Urip Sumoharjo, hingga Jalan A Yani.
Sesampai di depan Giant, Didik yang baru dua pekan keluar dari penjara dalam kasus serupa ini mulai beraksi. Namun, ranjau yang dipasang di sandalnya terjatuh. Didik lalu membenahi ranjaunya di dekat traffic light pertigaan Margorejo.
Setelah itu, Didik kembali mengejar mobil Daniel hingga di timur Giant. Pada saat jalanan macet Didik mengarahkan ujung sandal bagian kanannya yang sudah dipasangi paku payung ke ban belakang kiri mobil. Begitu paku terlindas, Didik dkk menguntit mobil, lalu terjadi perampasan uang Rp 10 juta yang gagal tersebut.
“Langkah yang kami lakukan (penembakan) sudah sesuai prosedur karena nyawa anak buah terancam. Kedua pelaku membawa celurit,” tutur AKBP Syahardiantono.
Menurut Betty dan Daniel saat ditemui di Polwiltabes Surabaya, uang yang dibawa itu rencananya ditransfer ke seseorang di Malang lewat BNI Jalan Rajawali.
Setelah menerima telepon dari atasannya, uang itu tidak jadi ditransfer dan korban kembali menuju kantor di Medokan Ayu. “Saya tidak merasa dibuntuti orang. Tahu-tahu ban bocor. Tak lama kemudian ada orang masuk mobil, mengambil tas saya,” tutur Betty.
Sesuai catatan polisi, Didik dkk diduga pelaku perampasan uang Rp 50 juta yang diambil pegawai SMPN 1 Wonoayu Sidoarjo dari Bank Jatim, beberapa waktu lalu. Pasalnya, ranjau yang dipakai sama dengan milik tersangka yakni warna hitam, ukuran 3-4 cm, dan ujungnya seperti pisau. Kejahatan sama juga dilakukan di Jalan Adityawarman senilai Rp 5 juta. Mereka juga diduga beraksi di Malang dan Mojokerto, beberapa waktu lalu.
Berbeda
Sementara itu, beberapa saksi mata di TKP memberi keterangan berbeda. Seorang petugas keamanan arena permainan bilyar Player bernama Siswanto menyebut, sebelumnya ada tiga orang berpakaian preman mencegat di tengah jalan. “Mereka mencegat dengan memalangkan sepeda motornya,” ujar Siswanto.
“Kemudian muncul sepeda motor. Melihat ada cegatan, ia hendak kabur. Dia lalu ditembak setelah diberi tembakan peringatan,” sambung Siswanto.
Setelah itu, datang mobil Suzuki Carry merah. Mobil ini hendak kabur dengan berputar arah setelah melihat ada cegatan. Namun, sebuah sepeda motor menyalip dan memotong laju mobil. “Mobil itu seperti hendak menabrak sepeda motor tersebut,” kata Siswanto.
Si pengendara sepeda motor lalu turun dan mendatangi mobil. Salah satu penumpang mobil keluar dari pintu kanan. “Sempat terjadi perlawanan,” kata Siswanto yang pos satpamnya berada persis di depan lokasi kejadian.
Setelah itu, ia tidak ingat lagi bagaimana peristiwanya. “Saya juga bingung bagaimana evakuasinya karena harus mengatur arus lalu lintas yang macet,” akunya.
Dua penjaga rumah di dekat TKP juga memberikan keterangan. Namun, kedua orang ini baru melihat setelah penembakan terjadi. “Setelah terdengar tujuh kali letusan, saya baru keluar. Tahu-tahu mobil Suzuki Carry warna merah sudah dikelilingi banyak orang,” ujar satpam ini.Yang jelas, ia mengatakan, tidak ada polisi berpakaian dinas dalam aksi tembak mati ini. “Saat itu tidak ada seorang pun yang boleh mendekati TKP,” tukasnya.
Dua jenazah pelaku perampokan ini tiba di ruang otopsi Instalasi Kedokteran dan Forensik (IKF) RSU Dr Soetomo pada pukul 13.30. Kedua jenazah langsung diletakkan di meja otopsi. Proses otopsi didampingi petugas Idik I Reskrim Polwiltabes Surabaya.
Di kantong baju Sudarmadji polisi tak menemukan sesuatu barang berharga. Sementara itu, di saku baju Didik ditemukan kunci T, uang Rp 2.000, dan tali putih yang diikatkan di pinggangnya. Di tubuh kedua jenazah ditemukan banyak tato.
Pada tubuh Sudarmadji terdapat empat luka tembak di punggung tembus dada, juga di ulu hati dan perut. Sementara itu, di tubuh Didik terdapat satu luka tembak di dada. Menurut petugas otopsi, luka tembak itu mengenai organ pernapasan sehingga dari mulut, hidung, dan telinga Didik mengeluarkan darah. mif/k3/rie
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang