Sultan Hamengku Buwono X belakangan ini sibuk mendatangi undangan dari berbagai tempat di Tanah Air. Terakhir, dari 31 Agustus hingga 1 September lalu ia ke Medan, Sumatera Utara. Ia didampingi Kanjeng Gusti Ratu Hemas, antropolog Muslim Abdurrahman, dan penyanyi politik Franky Sahilatua. Banyak tepuk tangan dan puji-pujian untuk Sultan dalam berbagai pertemuan massa.
Di Hotel Antares, Medan, Minggu lalu, komunitas lintas etnis Sumut meminta Sultan mau dicalonkan jadi presiden untuk Pemilu 2009. Permintaan itu disampaikan secara tertulis dan dibacakan sebagai deklarasi.
Siang harinya, di tempat lain, permintaan yang sama disampaikan sejumlah orang dalam pertemuan dengan masyarakat Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Sumatera). Senin (1/9), beberapa orang dari berbagai perguruan tinggi di Sumut yang berkumpul di Universitas Sisingamangaraja, Medan, juga minta Sultan mau dicalonkan menjadi presiden.
Terkait permintaan itu, Sultan antara lain mengharapkan agar seruan dari kelompok etnis di Sumut bergema ke tempat lain di Indonesia. Namun, ia dengan halus menyatakan masih akan menjajaki hati nuraninya dan suara masyarakat lebih luas untuk menjawab secara tegas atas permintaan menjadi calon presiden. ”Amati saja apa yang saya lakukan akhir tahun ini,” ujar Gubernur DI Yogyakarta itu.
Di depan masyarakat Pujakesuma, Sultan mengatakan, ”Saya ingin jangan sampai memberi jawaban yang membuat Saudara-saudara sekalian mengatakan, waduh ternyata Sultan sama saja dengan calon presiden lain.”
Permintaan agar Sultan maju dalam pemilihan presiden 2009 juga disampaikan Ketua Presidium Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA-GMNI) Palar Batubara. ”PA GMNI sebagai organisasi kemasyarakatan tak bisa menetapkan calon pemimpin karena bukan parpol. Namun, Presidium PA GMNI punya kewajiban dan tanggung jawab mencarikan calon pemimpin terbaik untuk negeri ini,” kata Palar.
Permintaan agar Sultan maju dalam pemilihan presiden 2009 tentu diiringi dengan berbagai pesan. Selain soal pemberantasan korupsi dan perhatian untuk kesejahteraan rakyat kecil, juga muncul keinginan agar masyarakat luar Jawa jangan dilupakan dalam penyusunan kabinet. Pesan itu muncul dari dosen Universitas Sisingamangaraja, Alexander Sembiring.
”Mengapa akhir-akhir ini kabinet atau pemerintahan pusat tidak semakin mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika, tetapi lebih cenderung Jawa Tunggal Ika,” katanya.
Pesan itu ditanggapi Sultan dengan menyerukan agar setiap pemimpin bangsa berjiwa Pancasila. ”Di dalam dada setiap pemimpin dan setiap orang negeri ini harus seperti yang tercantum dalam lambang Garuda ini,” ujar Sultan.
Dari tas mimbar, Sultan mencoba menjawab pertanyaan itu. Ia mengatakan, untuk mencari pimpinan yang mewakili suatu daerah, pencari perlu melepaskan sikap Jakarta sentrisnya. Selama ini pemimpin yang Jakarta-sentris melihat tokoh nasional adalah orang yang dikenal dan dekat orang dalam pemerintahan pusat saja. ”Sehingga susunan personalia dalam pemerintahan pusat tidak mencerminkan Indonesia ini rumah bersama dari Sabang hingga Merauke,” ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang