JAKARTA, JUMAT- Para pedagang pakaian bekas di Pasar Senen, Jakart Pusat, mengeluhkan sepinya pembeli akibat kalah bersaing dengan pakaian impor asal China. "Sejak pakaian dari China masuk, sekitar tahun 2000, penjualan kita turun. Orang banyak yang pilih beli pakaian China. Soalnya murah," kata salah satu penjual pakaian bekas, Danang, di Jakarta, Jumat (12/9).
Menurut dia, harga jual pakaian baru impor asal China sangat rendah, sehingga pasaran pakaian bekas menjadi tersaingi. Harga jual pakaian China yang hanya hanya Rp30.000 sangat berpengaruh dengan harga jual pakaian bekas. "Pakaian bekas kita Rp 20.000 per potong, orang sepertinya lebih senang beli pakaian baru yang hanya selisih Rp10.000 per potong," ujar dia.
Sedangkan menurut pedagang pakaian bekas lainnya, Jafar, penurunan jumlah pembeli pakaian bekas juga semakin terasa sejak pusat perbelanjaan atau hypermarket melengkapi produknya dengan produk tekstil.
"Ya harga jual mereka juga bersaing dengan pakaian bekas. Teman saya pun yang bekerja di salah satu hypermarket bilang kalau harga pakaian mereka tidak jauh beda dengan pakaian bekas yang saya jual," katanya.
Sementara itu, menurut Lumbon, pedagang pakaian bekas lainnya, penjualan pakaian bekas pada minggu kedua bulan puasa kali ini lebih sepi dibanding minggu yang sama pada puasa tahun lalu. Dia mengaku omzet penjualannya pada puasa tahun lalu bisa mencapai Rp 500.000 hingga Rp 2 juta per hari. Namun pada minggu kedua puasa kali ini penjualan hanya berkisar Rp 100.000 hingga Rp 500.000.
"Ada pengaruh juga memang dari kenaikan harga BBM bulan Mei lalu. Orang sekarang lebih senang membeli makan dulu dari pada membeli baju," ujar dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang