Jalan Lintas Kaltim Cuma Mampu 8 Ton

Kompas.com - 12/09/2008, 19:17 WIB

SAMARINDA, JUMAT - Jalan Lintas Kalimantan Timur belum siap menampung arus lalu lintas Lebaran. Perbaikan sejumlah kerusakan tidak akan selesai hingga hari raya. Pengendara sebaiknya mengangkut barang kurang dari delapan ton.

"Daya dukung jalan atau muatan sumbu terberat cuma delapan ton," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Permukiman Prasarana Wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), Husinsyah, di Samarinda, Jumat (12/9).

Namun, kemampuan itu bila jalan aspal tanpa kerusakan. Jalan membentang dari selatan hingga utara sekitar 1.000 kilometer. Jalan itu dimulai dari perbatasan Kalimantan Selatan di Batu Aji, Kabupaten Pasir, hingga Kecamatan Malinau, ibu kota Kabupaten Malinau.

Padahal, jalan tertimbun tanah longsor, ambles hingga separuh jalan, dan berlubang masih ditemui di sejumlah lokasi. "Perbaikan tidak akan selesai saat Lebaran," kata Husinsyah mengeluh.

Menurut Husinsyah, ada sejumlah lokasi longsor dan ambles dari Batu Aji hingga Kecamatan Kuaro, Pasir. Jalan aspal berkelak-kelok karena berada di perbukitan. Lebar jalan 5-6 meter. "Pemeliharaan dan perbaikan rencananya selesai November nanti," katanya.

Dari Kuaro hingga tepi Teluk Balikpapan di Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, ada belasan lubang. Lebar jalan aspal 6-7 meter. Ruas jalan dari Batu Aji hingga Penajam sekitar 300 kilometer. Untuk menjangkau Balikpapan, pengendara harus menyeberang dengan feri.

Ada dua lokasi jalan ambles hingga separuh jalan di ruas Balikpapan-Samarinda, sepanjang 115 kilometer selebar 7 meter. Keduanya di kilometer 11 dan 23 dari Balikpapan. Penanganan di kilometer 11 terkendala hujan dan padatnya arus lalu lintas. Di lokasi, kendaraan harus bergantian melewati satu lajur. Antrean kendaraan bahkan berkilo-kilometer. "Kontraktor kami desak agar jalan ambles bisa ditimbun sehingga dua lajur bisa dilalui saat Lebaran," kata Husinsyah.

Di kilometer 23, belum ada pengerjaan apapun sebab masih dalam proses lelang. Di lokasi, kendaraan pun harus bergantian sebab cuma satu lajur jalan sepanjang 20 meter yang bisa dilalui kendaraan. Di luar keduanya, jalan relatif mulus tetapi pengemudi perlu hati-hati sebab jalan berkelak-kelok.

Ruas Samarinda-Bontang sepanjang 120 kilometer relatif baik. Tiada jalan ambles tetapi ada belasan lubang. Lebar jalan 6 meter dan berkelak-kelok.

Husinsyah mengatakan, kerusakan parah ada di ruas Bontang-Sangatta, ibu kota Kabupaten Kutai Timur. Kerusakan jalan sepanjang 55 kilometer dan selebar 4 meter itu merata dan diperkirakan 60 persen.

Menurut Husinsyah, perbaikan sedang dilakukan tetapi tidak maksimal sebab cuma ada dana Rp 5 miliar. Yang bisa dilakukan ialah menutup lubang-lubang. Namun, karena sering hujan dan dilalui truk dan bus, lubang jalan yang membelah Taman Nasional Kutai itu cepat kembali menganga. Ruas itu akan dimasukkan dalam program pembangunan yakni pelebaran dan pengaspalan pada 2009.

Ruas selanjutnya ialah Sangatta-Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau sekitar 500 kilometer. Lebar jalan 5 meter. Ada beberapa jalan ambles bahkan nyaris putus di ruas Sangatta hingga Simpang Perdau.

Simpang Perdau-Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, tersebar puluhan lubang. Diameter lubang 1-2 meter. Penambalan dengan tanah dan semen tidak bertahan lama sebab kerap hujan dan dilalui bus dan truk.

"Kondisi serupa juga terjadi di ruas Wahau hingga Labanan dan Tanjung Redeb," kata Husinsyah. Alokasi biaya untuk pemeliharaan jalan Sangatta-Tanjung Redeb cuma Rp 40 miliar. Untuk itu, pengaspalan tidak sampai separuhnya.

Selanjutnya ruas Tanjung Redeb-Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan sekitar 100 kilometer. Jalan relatif baik, aspal selebar 6 meter. Namun, ada beberapa titik longsor. Menurut Husinsyah, penanganan dengan memperlebar jalan ke sisi lainnya dan memasang rambu peringatan.

Yang terakhir ialah ruas Tanjung Selor-Kabupaten Malinau sekitar 200 kilometer. Jalan tidak semuanya aspal misalnya di Sekatak. Setelah hujan, jalan berlumpur seperti bubur dan nyaris tidak bisa dilalui kendaraan.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau