Akibat Kelaparan, Ella Lumpuh

Kompas.com - 13/09/2008, 08:29 WIB

KEDIRI, KOMPAS — Ella (7), anak keluarga miskin dari Kampung Kauman, Desa/Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri, harus dilarikan ke UGD RSUD Pare karena busung lapar, Jumat (12/9) sore.  

Ella tiba di UGD sekitar pukul 15.00 WIB dengan mobil Puskesmas Kandangan. Turun dari mobil, Ella dalam gendongan ayahnya, Mariyono (46), yang sehari-hari bekerja sebagai tukang kebun di KUA Kandangan. Ikut mendampingi Ella adalah kakak perempuannya, Isma Ayu Safitri, yang duduk di kelas II SD.

Kondisi Ella sangat lemah. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini hanya bisa merintih dan mengaduh tanpa banyak gerak. Kakinya bahkan sudah tidak kuat lagi menyangga tubuhnya sendiri. Padahal, berat badan Ella hanya 7 kilogram di usianya yang hampir tujuh tahun.

Bocah malang ini tidak kuat lagi berbicara selain hanya merengek kesakitan. “Pak, Paak…” suara rintihan panjang sambil menangis ini terdengar saat Mariyono meletakkan tubuh Ella di kasur kamar UGD. Selembar kain panjang untuk menggendong Ella dilepaskan Mariyono pelan-pelan.

Menurut Mariyono, sudah dua bulan anak perempuannya ini tidak mau makan. Untuk membuka mulut sakit, apalagi untuk mengunyah. Ella juga tidak lagi mampu berdiri sehingga tidak bisa berjalan alias lumpuh. “Dia hanya tiduran dan menangis terus sepanjang hari. Kata dokter di Puskesmas, anak saya kena gizi buruk,” ucap Mariyono.

Dengan duduk termangu, pria yang sebagian besar rambutnya sudah memutih ini menatap dalam-dalam tubuh anaknya. Kesedihan yang mendalam tecermin dari sorot mata Mariyono yang tampak kuyu. Apalagi, Ella mengaduh dan terus menangis saat perawat UGD mengulurkan tali infus untuk dipasang di tangan kirinya.

Melihat kondisi pasien barunya, perawat itu terlihat tidak tega untuk memasukkan jarum infus ke lengan Ella. Sebab, lengan yang berkulit hitam itu cuma sebesar ranting bambu. Begitu pula kedua betisnya. Tangisan bocah ini terhenti saat Isma, kakak perempuannya, bersama bapaknya mengelus halus kepala Ella.

Mariyono menuturkan, anak ketujuhnya itu mulai terserang gizi buruk sejak sekitar setahun terakhir. Saat usianya menginjak lima tahun pada 2007 lalu, berat badan Ella hanya 11 kg. Kondisinya yang sudah kurus kering dengan tinggi badan 90 cm lebih buruk lagi sekarang ini.

Mariyono menjelaskan, Ella sempat dirawat dua hari di puskesmas sebelum dilarikan ke RSUD Pare. Namun, dengan kondisinya yang bertambah buruk, Mariyono mengaku pasrah. “Mau apa lagi, saya orang tidak punya,” ucapnya.

Semenjak kenaikan harga sembako, jelas dia, bebannya untuk menghidupi keluarga terasa makin berat. Padahal, setiap bulan Mariyono hanya menerima upah sebagai tukang kebun di KUA Kandangan sebesar Rp 300.000. “Meski istri saya membantu cari nafkah dengan berjualan lauk bothok keliling, hasilnya belum mencukupi. Sekarang semua serba naik harga,” cerita Mariyono.

Selain Ella, menurut Mariyono, tiga anaknya yang lain juga kurus kering. Isma yang ikut mengantar Ella terlihat kurus.Anak kelima Mariyono ini sebelumnya juga pernah dirawat di Puskesmas Kandangan, juga dengan gejala gizi buruk.

Menurut Mariyono, keluarganya kerap hanya makan nasi ditambah garam tanpa lauk pauk dan sayuran. ”Saya sering menangis sendiri. Bantuan biskuit dan susu dari posyandu atau puskesmas untuk Ella kadang jadi rebutan saudara-saudaranya yang lain,” tambah Mariyono dengan nada sedih.

Dalam catatan RSUD Pare, dengan penyakit yang sama Ella sebelumnya telah dirawat selama 22 hari di tempat itu pada Januari lalu. “Benar, dia pernah dirawat di sini,” terang Ahmad Roziq, staf humas RSUD Pare.

Setelah hampir sebulan dirawat, kondisi Ella mulai membaik dan bisa dibawa pulang. Sejak itu, selama 90 hari dia mendapat bantuan tambahan makanan bergizi, di antaranya susu entrasol dan biskuit. Namun, bantuan tersendat sejak beberapa bulan lalu.  

Menurut penuturan Mariyono, mengambil entrasol di Puskesmas Kandangan kini tidak mudah. Ada saja alasan yang diungkapkan petugas, tapi Mariyono tak berani menggugatnya. “Kami kan cuma wong cilik, mana berani macam-macam,” kenang Mariyono.

Secara terpisah, Ketua DPRD Kabupaten Kediri Erjik Bintoro mengakui dirinya mengenal keluarga Mariyono dan bertetangga. “Tapi, saya kini tinggal sekitar satu kilometer dari rumah Mariyono. Cuma, panti asuhan yang kami kelola lebih dekat dengan tempat tinggal Mariyono,” ucap Erjik.

Sebetulnya, beberapa waktu lalu Erjik bertemu Mariyono, tapi ayahanda Ella itu tak memberitahu apa pun tentang kondisi anaknya. “Saya bilang padanya, itulah akibatnya kalau beranak banyak,” ucap Erjik.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri dr Adi Laksono menyatakan bahwa Ella adalah kasus lama. Dinkes sudah melakukan intervensi dengan memberikan bantuan makanan tambahan berupa entrasol lewat puskesmas.

Ella, kata Adi, adalah kasus gizi buruk yang diakibatkan oleh kelainan pada pencernaan. Kemampuan penyerapan protein di ususnya lemah. Tapi, diakui Adi, keluarga Ella memang termasuk kategori miskin.(K2)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau