JAKARTA, SABTU - Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Hasanuddin Massaile mengatakan akan mendukung duet SBY-JK pada Pemilihan Presiden 2009.
"Secara pribadi saya mendukung SBY-JK tetap maju pada Pilpres nanti. SBY dikenal dengan sosok yang kharismatik sementara JK problem solving (cepat menyelesaikan masalah). Dalam ilmu manajemen ini sangat diperlukan untuk memimpin negara. Apalagi ada perpaduan Jawa-Luar Jawa," kata Hasanuddin, Sabtu (13/9).
Hal yang sama dikemukakan Hasanuddin dalam acara buka puasa di Istana Wapres beberapa waktu lalu. Warga KKSS luar Sulsel di seluruh Indonesia tercatat 12 juta jiwa. Mereka ada di sejumlah provinsi di Indonesia. Warga KKSS yang identik dengan Bugis-Makassar- Toraja memang dikenal sebagai warga perantau. KKSS juga merupakan salah satu mesin politik JK ketika hendak maju dalam Pilpres 2004 lalu. "Mencari pemimpin lain perlu belajar lagi. Pemimpin baru masih perlu saling mengisi lagi," kata Hasanuddin.
Kendati tidak menyebut setuju duet SBY-JK kembali bersanding pada Piplres mendatang namun Wakil Ketua MPR RI Aksa Mahmud menilai pemerintahan idealnya bisa bertahan minimal dua periode (10 tahun) agar bisa meneruskan pondasi rencana pembangunan lima tahun pertama. "Lima tahun pertama pemerintahan meletakkan dasar pembangunan dan belum maksimal kerjanya. Lima tahun berikutnya melakukan pembangunan dasar dan jangka menengah. Nah kalau baru lima tahun memerintah kan belum ada hasilnya tuh kelihatan," kata Aksa yang juga ipar Wapres JK ini.
Jadi, menurut Aksa, pemerintahan sekarang perlu diberi kesempatan kedua kalinya untuk memerintah negeri ini. "Karena jabatan presiden hanya dua periode maka kita ikut undang- undang. Sekiranya perlu tiga periode juga tidak masalah," katanya pekan lalu.
Kecuali, lanjut Aksa, ada pemimpin sekarang yang bisa menyamai popularitas Calon Presiden Amerika Serikat Barack Obama maka pemimpin tersebut dipersilahkan untuk maju menjadi Capres 2009. "Nyatanya survei yang populer sekarang itu-itu juga. Kalau ada yang populer seperti Barrack Obama yah silahkan maju," jelasnya.
Namun Wakil Sekjen Partai Golkar Malkan Amin mengatakan belum bisa diputuskan apakah JK akan maju sebagai capres atau cawapres pada Pilpres mendatang. "Karena tidak ada konvensi maka capres atau cawapres diputuskan dalam Rapim (rapat pimpinan) atau rapat khusus untuk itu. Tentu saja setelah menunggu hasil Pemilu," kata Malkan.
Dikatakannya, Golkar juga belum bisa memutuskan apakah JK sebagai capres atau cawapres kendati misalnya perolehan suara Golkar nanti signifikan. "Dulu piplres 2004 suara Partai Golkar di atas Demokrat nyatanya Golkar mengambil posisi cawapres," katanya.
Menurut dia, semuanya masih bisa terjadi pada Pemilu mendatang. "Pada posisi sekarang tak enak bagi Golkar bicara capres apalagi karena Pak JK sebagai wakil presiden dalam pemerintah. Kita tunggu saja hasil Pemilu baru bicara soal ini," jelasnya. (Persda Network/Hasanuddin Aco)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang