SUSI IVVATY
Ketika Gita Gutawa (14) sepanggung dengan grup Bimbo (Samsudin (65), Acil Darmawan (64), Jaka Purnama (60), yang sedang terjadi adalah sebuah pertunjukan lintas generasi. Gita dengan lengkingan suaranya yang bening dan Bimbo dengan kekuatan suara yang makin lemah tetapi tetap khas.
Di antara Gita dan Bimbo, ada grup GIGI dan Ungu yang mewakili zamannya masing-masing. Penampil lain adalah Opick, dikenal sebagai pencair kebekuan setelah era Bimbo ”berlalu”, dengan usungan lagu-lagu pop religi.
Dari negeri jiran Malaysia, tampil grup Raihan dan penabuh perkusi Steve Hassan Thornton asal Amerika Serikat tetapi bermukim di Malaysia. Lalu ada Sulis yang biasa menembangkan lagu-lagu bernuansa Timur Tengah. Taufik Ismail hadir membacakan puisi Kerinduan Kita Pada Ramadan. Dengan iringan musik dari Erwin Gutawa Orkestra, konser ini terasa kemegahannya.
Konser musik ”The Spirit of Ramadan” yang dipromotori Venusa Production di Jakarta Convention Centre, Selasa (9/9), seperti hendak merangkul semua usia penonton. Selain disaksikan penonton berusia tua, konser dengan Art Director Jay Subyakto dan Erwin Gutawa ini juga ditonton remaja, seperti seratusan siswa-siswi SMP dan SMA Daarul Qur’an Internasional Tangerang.
Dan, terbukti, para remaja masa kini memang tidak mengenal Taufik Ismail atau Bimbo. Seorang siswa SMA Daarul Qur’an Internasional bertanya ketika Taufik mulai membaca puisi. ”Taufik Ismail itu siapa sih?” Teman-teman di sebelahnya menggeleng.
Mendengar itu, ada seorang wartawan yang kesal. Apalagi, ketika Bimbo dan Taufik naik pentas, anak-anak sekolah itu justru mengobrol. ”Makanya, belajar sastra dong,” tukas wartawan itu agak ketus.
Usung kearifan lokal
Untuk membuat konser ini berbeda dengan kebanyakan konser musik, Jay Subyakto meningkahi pertunjukan dengan beberapa sajian kesenian daerah. ”Kami ingin munculkan kearifan lokal saat Islam masuk ke Indonesia. Ternyata Islam tidak merusak budaya lokal,” jelasnya.
Maka, hadir azan pitu, azan yang dinyanyikan tujuh orang secara bersahut-sahutan dengan nada suara berbeda. Azan pitu ini pada tahun 1500-an disuarakan di Masjid Sang Cipta Rasa di wilayah Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat. Azan ini dilantunkan untuk menolak bala yang meresahkan masyarakat.
Lalu ada didong, kesenian asal Aceh. Sepuluh orang, termasuk anak-anak, masuk ke panggung dan duduk melingkar. Mereka menembangkan lagu khas Aceh sambil menepuk-nepuk bantal kecil dan bertepuk tangan. Didong berasal dari kata din yakni agama dan dong yaitu dakwah. Dulu, berdakwah agama dilakukan melalui seni tepuk bantal ini.
Konser ini juga memunculkan suluk, satu jenis karangan tasawuf yang dikenal dalam masyarakat Jawa dan Madura dan ditulis dalam bentuk puisi serta ditembangkan. Sayang, suluk itu tidak dinyanyikan langsung oleh Waljinah, tetapi sudah direkam sebelumnya.
”Saya prihatin dengan generasi sekarang yang tidak tahu dengan budaya Islam dan kearifan lokal,” tutur Jay. Azan pitu, suluk, dan didong ini memperkaya pergelaran berbiaya produksi lebih dari empar miliar rupiah ini.
Lagu andalan
Lagu apa yang diharapkan bakal dinyanyikan Bimbo? Barangkali sulit untuk memilih. Semua lagu kasidah Bimbo yang diciptakan pada tahun 70-an, saking kerapnya diputar saat Lebaran, menjadi sangat akrab di telinga. Bimbo memilih Rindu Rasul, Sajadah Panjang, Tuhan, Bermata Tapi Tak Melihat, dan Anak Bertanya Pada Bapaknya.
GIGI tampil dengan Perdamaian dan Lailatul Qadar. Adapun Ungu menembangkan Andai Ku Tahu, Surgamu, dan Para PencariMu. Sulis, yang dulu berduet dengan Hadad Alwi, melantunkan Ya Thoybah dan Ummi, sedangkan Opick bisa diduga tampil dengan Tamba Ati.
Grup Raihan menyanyikan antara lain Demi Masa dan Thank You Allah, yang populer di Indonesia sepuluh tahun lalu. Gita Gutawa pun melantunkan lagu lama, Ketika Tangan dan Kaki Bicara, yang pernah dinyanyikan oleh Chrisye dan GIGI.
Hampir semua lagu itu adalah lagu lama yang kondang pada zamannya. Alhasil, penonton pun ikut-ikutan menyanyi atau paling tidak, ya, komat-kamit.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang