”Sebab, jika saling pengertian dan toleransi tersebut hidup di kalbu masyarakat, agama dapat berperan konkret untuk membina semangat persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Sultan HB X yang didampingi permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Hemas dalam acara perayaan moon cake atau kue bulan dan wisuda sarjana Buddhis pertama Sekolah Tinggi Agama Buddha di Jakarta, semalam.
Hadir dalam acara itu antara lain Yang Ariya Maha Bhiksu Dutavira Sthavira dan sejumlah umat Buddha dari berbagai tempat di Indonesia.
Secara umum, kata Sultan HB X, ajaran setiap agama selalu mengandung nilai-nilai universal. ”Tetapi, dapat dimengerti jika antaragama ada perbedaan dogmatis. Oleh karena itu, dialog keagamaan hendaknya diarahkan sebagai pengakuan arti pentingnya agama dan kewajiban memeluk agama serta menjalankan ritual keagamaan bagi setiap individu,” ujarnya.
Di samping itu, katanya, hendaknya juga diarahkan untuk mencapai saling pengertian dan toleransi.
Menurut Sultan HB X, tradisi keagamaan yang berbeda-beda pada umat manusia ibarat warna yang hampir tak terbatas jumlahnya yang terlihat tatkala cahaya putih jatuh di atas prisma pengalaman manusia. ”Cahaya putih itu menyebar ke dalam tradisi, ajaran, dan agama yang juga tak terhitung alirannya,” ujar Sultan.
Berpikir pluralis
Semalam Sultan HB X dan Ratu Hemas tiba di Jakarta dari Jayapura, Papua. Di Jayapura Sultan HB X bertemu dengan pimpinan dan pendeta Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua.
Dalam pertemuan itu Sultan HB X menyatakan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak boleh ada dominasi agama dan etnis, dominasi mayoritas atas minoritas. ”Apabila kita bertekad menjaga persatuan, di dalamnya terkandung pemahaman tentang perbedaan. Kita dipanggil untuk berpikir pluralis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia,” ujar Sultan HB X yang juga didampingi Ketua Sinode GKI di Tanah Papua Pendeta Jemima Krye Sth.
Di Jayapura Sultan HB X juga berjumpa dengan berbagai kelompok masyarakat. Dalam pertemuan-pertemuan itu Sultan didampingi penyanyi dan penulis lagu sosial politik Franky Sahilatua. Franky tampil memberi selingan pertemuan dengan melantunkan lagu "Aku Papua".
Sementara itu, kemarin Sekretaris Jenderal Presidium Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA-GMNI) Achmad Baskara di Jakarta mengatakan kepada Kompas bahwa pernyataan Ketua PA-GMNI Palar Batubara di Medan adalah pernyataan pribadi.
Pekan lalu dalam pertemuan antaretnis di Medan, Palar menyatakan mendukung dan meminta Sultan HB X mencalonkan diri untuk Pemilihan Presiden 2009.
Ketika disampaikan tentang pernyataan Achmad Baskara, Palar menyatakan, ”Kami tidak hanya meminta Sultan HB X, tetapi juga calon-calon lainnya.”