Sultan HB X Serukan Saling Pengertian Antaragama

Kompas.com - 14/09/2008, 05:46 WIB
JAKARTA - Sultan Hamengku Buwono X, Sabtu (13/9) malam, menyerukan kembali perlunya saling pengertian dan tolerasi antaragama.

”Sebab, jika saling pengertian dan toleransi tersebut hidup di kalbu masyarakat, agama dapat berperan konkret untuk membina semangat persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Sultan HB X yang didampingi permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Hemas dalam acara perayaan moon cake atau kue bulan dan wisuda sarjana Buddhis pertama Sekolah Tinggi Agama Buddha di Jakarta, semalam.

Hadir dalam acara itu antara lain Yang Ariya Maha Bhiksu Dutavira Sthavira dan sejumlah umat Buddha dari berbagai tempat di Indonesia.

Secara umum, kata Sultan HB X, ajaran setiap agama selalu mengandung nilai-nilai universal. ”Tetapi, dapat dimengerti jika antaragama ada perbedaan dogmatis. Oleh karena itu, dialog keagamaan hendaknya diarahkan sebagai pengakuan arti pentingnya agama dan kewajiban memeluk agama serta menjalankan ritual keagamaan bagi setiap individu,” ujarnya.

Di samping itu, katanya, hendaknya juga diarahkan untuk mencapai saling pengertian dan toleransi.

Menurut Sultan HB X, tradisi keagamaan yang berbeda-beda pada umat manusia ibarat warna yang hampir tak terbatas jumlahnya yang terlihat tatkala cahaya putih jatuh di atas prisma pengalaman manusia. ”Cahaya putih itu menyebar ke dalam tradisi, ajaran, dan agama yang juga tak terhitung alirannya,” ujar Sultan.

Berpikir pluralis

Semalam Sultan HB X dan Ratu Hemas tiba di Jakarta dari Jayapura, Papua. Di Jayapura Sultan HB X bertemu dengan pimpinan dan pendeta Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua.

Dalam pertemuan itu Sultan HB X menyatakan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak boleh ada dominasi agama dan etnis, dominasi mayoritas atas minoritas. ”Apabila kita bertekad menjaga persatuan, di dalamnya terkandung pemahaman tentang perbedaan. Kita dipanggil untuk berpikir pluralis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia,” ujar Sultan HB X yang juga didampingi Ketua Sinode GKI di Tanah Papua Pendeta Jemima Krye Sth.

Di Jayapura Sultan HB X juga berjumpa dengan berbagai kelompok masyarakat. Dalam pertemuan-pertemuan itu Sultan didampingi penyanyi dan penulis lagu sosial politik Franky Sahilatua. Franky tampil memberi selingan pertemuan dengan melantunkan lagu "Aku Papua".

Sementara itu, kemarin Sekretaris Jenderal Presidium Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA-GMNI) Achmad Baskara di Jakarta mengatakan kepada Kompas bahwa pernyataan Ketua PA-GMNI Palar Batubara di Medan adalah pernyataan pribadi.

Pekan lalu dalam pertemuan antaretnis di Medan, Palar menyatakan mendukung dan meminta Sultan HB X mencalonkan diri untuk Pemilihan Presiden 2009.

Ketika disampaikan tentang pernyataan Achmad Baskara, Palar menyatakan, ”Kami tidak hanya meminta Sultan HB X, tetapi juga calon-calon lainnya.”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau