SBY Zero Option, PKS Lirik Megawati

Kompas.com - 14/09/2008, 19:52 WIB

Laporan Wartawan Kompas Khaerudin

MEDAN, MINGGU - Presiden Partai Keadilan Sejahtera Tifatul Sembiring mengatakan, partainya belum tentu kembali mendukung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pemilu 2009 mendatang. Menurut Tifatul, seluruh kandidat calon presiden memiliki bobot yang sama di mata PKS. Bahkan penilaian sama ini termasuk terhadap Presiden SBY.

Lebih lanjut Tifatul mengatakan, dari sejumlah riset, koalisi PKS dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) merupakan koalisi yang dianggap bisa mendatangkan pemilih dalam jumlah paling besar. Menurut dia, melihat riset ini, sangat mungkin PKS menggandeng Megawati dalam pemilihan presiden taun 2009 mendatang.

"Terhadap SBY, PKS menerapkan zero option setelah koalisi kami berakhir tahun 2009. Akan ada pertimbangan ulang. Semua kandidat calon presiden akan kami pertimbangkan sama," ujar Tifatul di Medan, Minggu (14/9).

Tifatul mengungkapkan, sangat mungkin usai pemilu legislatif mendatang, pilihan PKS dalam berkoalisi menghadapi pemilihan presiden tidak sama lagi dibanding tahun 2004 silam. Menurut Tifatul, mendasarkan pada se jumlah riset dimana koalisi dengan PDI-P bisa menjaring suara pemilih terbanyak, sangat mungkin PKS menggandeng Megawati pada pemilu presiden.

Koalisi partai Islam dengan partai nasionalis merupakan pilihan koalisi yang bisa mendatangkan pemilih paling banyak. Hasil riset malah menyebut, jika PKS berkoalisi dengan PDI-P mendatangkan jumlah pemilih terbanyak, ujar Tifatul sembari menyebut keberhasilan koalisi PKS dan PDI-P pada beberpa pemilihan kepala daerah.

Tifatul mengesampingkan pendapatnya mengenai calon presiden dari kalangan muda yang pernah dilontarkannya beberapa waktu lalu, dengan memilih Megawati sebagai calon presiden yang diajak berkoalisi oleh PKS. Hanya saja, menurut dia, presiden dari kalangan muda memang bakal jadi keniscayaan di waktu mendatang. "Pemilu 2009 ini akan jadi kesempatan terakhir bagi calon presiden yang usianya di atas 60 tahun," katanya.

Terkait koalisi dengan PDI-P, Tifatul mengakui sudah PKS telah berkomunikasi sangat aktif dengan petinggi PDI-P. "Beberapa kali kami saling berkomunikasi dengan Pak Taufik (Kiemas). Kami pun saling hadir dalam acara kedua partai," katanya.

Sebagai partai berasaskan Islam, PKS kata Tifatul juga tak terlalu mempermasalahkan calon presiden perempuan. "Bagi PDI-P kan Megawati sudah harga mati untuk jadi calon presiden. PKS enggak masalah dengan hal tersebut. Hanya saja nanti semua keputusannya terserah majelis syuro partai," kata Tifatul.

Meski tengah melirik Megawati, Tifatul mengatakan kesempatan berkoalisi kembali dengan SBY tidak tertutup sama sekali. "Namanya kami membuka kesempatan kepada siapa saja. Sangat mungkin juga kami berkoalisi dengan SBY. Syaratnya, dalam satu tahun terakhir masa pemerintahannya ini, SBY mampu memperbaiki tingkat kesejahteraan rakyat," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau