Pembagian Kekuasaan di Zimbabwe

Kompas.com - 16/09/2008, 00:59 WIB

HARARE, SENIN - Kelompok oposisi akhirnya menyetujui pembagian kekuasaan pemerintahan dengan Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe. Mugabe akan memimpin pemerintahan bersama Morgan Tsvangirai dari partai Gerakan Perubahan Demokrasi atau MDC (Movement for Democratic Change).

Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan politik tersebut di Pusat Konferensi Internasional, Harare, Senin (15/9). Mugabe, Tsvangirai, dan Arthur Mutambara, yang merupakan pemimpin faksi sempalan MDC, menyatakan kesepakatan tersebut di hadapan 3000 orang yang memadati gedung konferensi dan disaksikan sejumlah pemimpin negara-negara Afrika.

Dalam kesepakatan ini, Mugabe menjabat sebagai presiden. Tsvangirai menempati posisi perdana menteri dan Mutambara sebagai Deputi Perdana Menteri. Mugabe akan memegang kendali angkatan perang, sedangkan Tsvangirai mengandalikan kepolisian.

Kedua belah pihak juga menyepakati pembagian menteri yang duduk di kabinet. Dari 31 menteri, 15 orang dari kelompok Mugabe, Zanu PF. Sementara 16 lainnya dari kelompok MDC dan faksi-faksinya. Mugabe menjadi kepala kabinet, sementara Tsvangirai sebagai kepala dewan menteri yang menjadi badan pengambil keputusan di pemerintahan.

Dalam pernyatannya, Mugabe mengatakan komitmennya demi persatuan negara. Ia menambahkan akan membuka kerja sama lebih luas asal prinsip-prinsip dasar disepakati.

Sementara itu, Tsvangirai menilai kesepakatan ini memberikan harapan baru bagi Zimbabwe. Tsvangirai mengakui kesepakatan ini merupakan hasil kompromi yang menyakitkan sehingga butuh waktu untuk mengembalikan kehidupan demokrasi di Zimbabwe.

"Saya menandatangani kesepakatan ini karena saya yakin ini kesempatan terbaik bagi kami untuk membangun demokrasi yang damai dan menyejahterakan," ujar Tsvangirai.

Kesepakatan ini merupakan hasil mediasi yang dilakukan Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki sejak akhir Juli lalu. Kedua belah pihak baru menyetujui pada Kamis (11/9) lalu.

Meski pembagian kekausaan telah disepakati, masa depan Zimbabwe masih dipertanyakan terutama sampai berapa lama koalisi tersebut akan bertahan lama. Usai penandatangan perjanjian tersebut, Mbeki menyatakan bahwa pembentukan pemerintahan baru masih belum selesai.

"Diskusi telah dimulai untuk mengatur pemerintahan bersama, namun mereka belum memutuskannya. Saya yakin mereka akan segera melakukannya," ujar Mbeki.
Pemerintahan baru yang mengamodasi kepentingan seluruh kelompok di Zimbabwe ini membuka peluang bantuan luar negeri untuk memulihkan perekonomian Zimbabwe. Karena masalah politik dalam negeri, inflasi di Zimbabwe sempat mencapai 11 jura persen sehingga nilai uang di sana menjadi sangat rendah.

Mugabe memerintah Zimbabwe sejak lepas dari Inggris tahun 1980. Ia kembali terpilih sebagai calon tunggal dalam pemilu Juni lalu setelah Tsvangirai mengundurkan diri karena MDC menjadi target kekerasan yang didukung pemerintahan Mugabe. Pada pemilu putaran pertama Tsvangirai sebenarnya menempati peringkat teratas mengungguli Mugabe. Namun, kemenangannya dianggap tidak cukup karena tidak melebihi 50 persen suara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau