Kasus Situ Pamulang: Penampakan Buaya Jadi Pertanda

Kompas.com - 16/09/2008, 10:30 WIB

JAKARTA, SELASA - Keberadaan Situ Pamulang di Jalan Raya Pajajaran, Kedaung, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, sebenarnya memberi atmosfer tersendiri bagi warga sekitar. Bentangan air dan pepohonan disekitarnya memberi suasana teduh. Tak aneh itka setiap sore banyak mudamudi yang menghabiskan waktu di pinggir situ tersebut.

Namun, kondisi Situ Pamulang, kini tidak terpelihara dengan baik. Bukan hanya masalah penyempitan, tetapi
juga pembangunan pusat perbelanjaan dan perumahan di sekitarnya yang terus memengaruhi kelestarian situ.

Di balik asrinya lingkungan Situ Pamulang, menurut warga sekitar, tempat ini me nyimpan misteri. Danau ini dulu sering minta korban. Tenggelamnya enam anak baru gede (ABG) di situ tersebut, Minggu (14/9) pagi,
terjadi setelah belasan tahun tidak ada orang yang tenggelam di sana.

"Dulu zaman saya masih kecil, setiap.tahun pasti ada yang tenggelam," ujar Ardi Jama (56), warga Jalan Saidin, Bambuapus, Pamulang. Menurut Ardi, selama belasan tahun terakhir tidak ada yang tenggelam di danau tersebut, hingga tragedi hari Minggu terjadi.

Ardi mengatakan, puluhan tahun lalu sering ada penampakan buaya di permukaan situ. Beberapa saat setelah penampakan buaya, dapat dipastikan akan ada korban tenggelam. "Kalau ada buaya, pada nggak berani ke danau. Saya juga dulu ngangon (menggembala) kerbau. Kalau buaya muncul saya nggak berani memandikan kerbau," kata ayah enam anak ini seraya menyatakan tidak tahu apakah sebelum terjadi tragedi hari Minggu lalu ada penampakan buaya atau tidak.

Menurut pensiunan karyawan swasta ini, kebanyakan korban tenggelam di Situ Pamulang adalah warga tempat lain, bukan warga setempat. "Saya dulu sering mandi di tempat itu. Berenang ke seberang juga nggak apa-apa," ujarnya.
Sebelum tahun 1980-an, kata Ardi, banyak warga Serpong, Pondokpetir, dan wilayah sekitarnya yang bertandang dan berenang di Situ Pamulang dan akhirnya tewas tenggelam.

"Dulu ada bambu panjang yang menancap di danau. Nah, itu adalah titik tengah danau. Orang bilangnya Kedung Buaya, padahal buayanya kadang ada kadang tidak ada," katanya.

Setiap musim panas, dulu, anak-anak kerap berburu ikan di pinggir danau, "Ada ikan mercoca, ikan lopis, ikan helem, dan masih banyak lagi. Tapi sekarang tidak ada ikan lagi," ujar Ardi.

Saat ini, sebagian danau digunakan untuk beternak ikan oleh warga sekitar. Di pinggir danau, endapan lumpur mencapai setinggi paha orang dewasa. Diduga, lumpur itulah yang membuat enam ABG terjebak dan tidak bisa berenang.

Jalan Raya Pajajaran baru diaspal sekitar tahun 1975. Saat masih berupa jalan berbatu, banyak pedagang yang lewat dengan menggunakan sepeda menuju Pasar Ciputat atau Pasar Kebayoran Lama. Sedangkan saat ini jalan tersebut ramai dilalui kendaraan. Akibatnya, di jalan tersebut menjadi rawan kecelakaan. Bahkan tidak jarang korban kecelakaan hingga meninggal dunia.

"Di sini dari dulu sering terjadi kecelakaan. Biasanya kalau sudah ada tiga atau empat kecelakaan, yang kelima pasti korbannya meninggal" ujar seorang warga yang tidak mau menyebutkan namanya.

la menuturkan, ruas Jalan Pajajaran mulai kawasan pinggir danau hingga bundaran Pamulang adalah tempat yang paling sering terjadi kecelakaan. "Dulu ketika jalan belum diaspal ada yang terlindas truk. Apalagi sekarang, jalan yang sudah mulus membuat banyak pengendara motor ngebut," katanya.

Di balik sejumlah kejadian tersebut, sebagian masyarakat masih menganggap kawasan danau dan jalan Pajajaran adalah area yang cukup angker. Namun, sebagian warga lainnya menganggap tidak ada yang berbeda dan aneh pada danau tersebut. "Yah, memang percaya nggak percaya, tapi korban meninggal sih ada saja, akibat kecelakaan atau tenggelam di danau," ujar seorang warga. (Warta Kota/sab)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau