Pasangan Selingkuh: Cerai Jalan Terbaik?

Kompas.com - 16/09/2008, 11:38 WIB

Hadirnya cinta lain dalam sebuah kehidupan perkawinan, entah itu disebut selingkuh atau pria/wanita idaman lain, bukanlah hal baru dalam sejarah kehidupan manusia. Sejak zaman dulu orang sudah mengenal selingkuh. Pernikahan tak menutup akses seseorang untuk jatuh cinta lagi.

Menurut Maria Theresia Widyastuti, Psi, konsultan psikologi, munculnya cinta lain dalam kehidupan perkawinan sering terjadi di usia perkawinan rawan, rata-rata lima tahun ke atas. “Tapi tak tertutup kemungkinan di usia awal perkawinan, misalnya tiga tahun, kalau fondasi dan komitmen pernikahannya tidak kuat,” katanya.


Kenali Pemicunya
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi mengapa cinta lain itu hadir, di antaranya cara pandang seseorang terhadap lembaga perkawinan. ”Artinya, sejauh mana setiap pasangan memaknai sebuah lembaga perkawinan. Kalau dia menganggap lembaga perkawinan hanya sebagai simbol saja, tidak merasa penting untuk menjaganya, kejadian seperti itu bisa saja terjadi,” ucap Maria. Namun, tambah Maria, ketika kita menganggap lembaga perkawinan adalah lembaga suci yang perlu dijaga, kita akan sebisa mungkin tidak menodainya.

Kemudian, kaitannya dengan pribadi si pelaku. “Cinta lain timbul bisa dikarenakan dia sudah tidak menemukan sesuatu yang dia butuhkan pada diri pasangan atau perkawinan yang dijalani,” katanya. Meski cinta memang soal rasa yang sulit dijelaskan hingga bisa diterima akal sehat, Maria mendapati laki-laki dan perempuan punya perbedaan alasan terhadap munculnya cinta dalam perkawinan mereka.

Perempuan yang menemukan cinta lain itu merasa kehidupan pernikahannya terasa hambar dan mereka sering didera kesepian. Ia tidak cukup mendapat kehangatan dari suaminya, hingga suatu saat dia menemukan pemenuhan kebutuhan psikisnya dari laki-laki lain.

Bagaimana dengan laki-laki? Biasanya suami menemukan cinta lain karena merasa komunikasi dengan istri tidak lagi berjalan baik. Hal ini bisa terjadi karena faktor sosial, latar belakang pendidikan, ekonomi, sampai peran istri yang terlalu dominan.

Menurut Maria, tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Mengagumi seseorang karena kepintarannya, kebaikan, dan penampilannya adalah hal yang wajar. Yang jadi masalah adalah ketika jatuh cinta itu dipupuk dengan aksi berikutnya sehingga menjadi cinta yang dalam. Kontrol sosial di kota besar dan banyaknya waktu yang dihabiskan pasangan yang keduanya bekerja di luar rumah sering kali dijadikan alasan tumbuhnya cinta lain dalam kehidupan perkawinan.


Apakah Cerai Jalan Terbaik?
Apa pun keputusan yang diambil ketika cinta lain itu hadir, semuanya tergantung dari si pelaku sendiri. “Di sini tidak ada kata baik atau buruk, tapi apa pun pilihannya, pasti mengundang risiko,” kata Maria.

Sebelum memutuskan langkah apa yang akan diambil, sebaiknya Anda dan pasangan mengkaji kembali tujuan hidup. Jika keutuhan rumah tangga menjadi prioritas, kembali ke pasangan dan memperbaiki hubungan dengan melakukan perbaikan komunikasi adalah cara yang sebaiknya ditempuh. “Mereka harus benar-benar menata kembali kehidupan perkawinan mereka,” ujar Maria.

Jika pilihannya adalah bercerai, yang perlu dipikirkan adalah kehadiran anak. Pertimbangkan kembali apakah keputusan bercerai adalah pilihan yang bijak. Sebaiknya pilihan ini dilakukan ketika anak masih bayi. Hindari bercerai ketika anak dalam masa pertumbuhan karena ini akan melukai jiwa si anak seumur hidupnya.

Kalau pilihannya adalah tetap menjalani keduanya, pernikahan dan hubungan dengan si pria lain ini, yang perlu diperhatikan adalah norma sosial. Biasanya pandangan orang masih negatif dan ini bisa berimbas pada pergaulan sosial. Belum lagi kalau sampai si suami mengetahui keadaan ini, risikonya jauh lebih besar lagi. Tapi, apa pun pilihannya, semua keputusan berada di tangan Anda, dan semua ada konsekuensinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau