Gizi Buruk Kembali Landa Kediri

Kompas.com - 16/09/2008, 16:52 WIB

KEDIRI, SELASA - Setelah enam bulan dinyatakan reda, wabah gizi buruk kembali melanda wilayah Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
 
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri selama tahun 2008 ini menunjukkan, jumlah kasus gizi buruk di daerah itu mencapai 45 kasus, dan dua di antaranya meninggal dunia.

"Korban terakhir bernama Ella, berusia tujuh tahun yang meninggal dunia, Minggu (14/9) malam sekitar pukul 23.30 WIB," ungkap Koordinator Program Peningkatan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Eni Suhartini, Selasa (16/9).

Menurut dia, anak pasangan Hariono dan Sriyah, warga kampung Kauman, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri itu disertai penyakit lain yang menyertai gizi buruk.

"Dia menderita Bronchitis Phenomonia yang menyertai penyakit gizi buruk. Dan penyakit ini diderita Ella sejak tahun 2003," katanya.

Eni menjelaskan, kecil kemungkinan penderita gizi buruk meninggal dunia kalau tidak disertai penyakit lain, seperti infeksi paru-paru, diare, dan beberapa jenis penyakit dalam lainnya.

"Sehingga diberi asupan gizi dalam bentuk apapun, kondisi fisik penderita gizi buruk akan sulit pulih selama penyakit penyerta tadi belum bisa disembuhkan," katanya.

Ia menambahkan, jumlah kasus gizi buruk tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 100 kasus, sebanyak tiga diantaranya meninggal dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau