DENPASAR, SELASA - Kebakaran melanda tiga hektar kawasan hutan semak di punggung timur laut Gunung Agung, Karangasem, Bali. Pemerintah Kabupaten Karangasem berkoordinasi dengan Badan SAR Nasional Bali untuk melokalisir dan memadamkan api. Namun, kedua upaya itu terkendala relatif tingginya lokasi kebakaran.
Bupati Karangasem Wayan Geredeg yang dihubungi di Denpasar, Selasa (16/9) mengungkapkan, pusat kebakaran berada di ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut, meliputi wilayah Kecamatan Kubu dan Abang.
Penduduk di desa terdekat mulai melihat api Sabtu (13/9) pekan lalu. "Sembari memadamkan dengan peralatan sederhana secara manual, kami saat ini fokus melokalisir api dengan cara mem buat parit-parit di sekitar api sehingga api tidak menjalar," kata Geredeg.
Namun, upaya itu terlihat kurang maksimal. Seperti diakui Geredeg, terbukti dari gambar video yang diambil aparat Pemkab Karangasem menggunakan helikopter milik Polda Bali kemarin, api terlihat telah meluas, namun masih berada di kawasan hutan semak. Titik api terlihat meliputi hutan semak bagian barat Desa Tulamben, sebelah barat Desa Kubu Juntal, dan wilayah hutan Daya, Kubu.
Koordinasi dengan Basarnas tengah dilakukan, terutama terkait pengadaan alat-alat pemadam api dari udara. "Kami akan menggunakan Helikopter Basarnas dalam satu-dua hari ini untuk memadamkan api," kata Geredeg.
Ketua Basarnas Bali Ketut Parwa menyatakan, sejumlah petugas Basarnas yang bertugas di Karangasem akan segera ditambah personel dari Denpasar. Mereka akan bekerja sama dengan aparat Pemkab Karangasem, serta anggota Polres Karangasem.
Soal asal-muasal api, Geredeg membantah bahwa api muncul akibat dari aktivitas warga, khususnya pembukaan lahan. Ia menyatakan, kawasan yang terbakar itu merupakan hutan semak yang sangat kering di musim kemarau seperti saat ini, berbatu, dan selama ini tidak pernah menjadi tempat aktivitas warga. Api diperkirakan muncul akibat panas sinar matahari yang bergesekan dengan semak-semak kering.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang