Anwar "Genggam" Kemenangan

Kompas.com - 17/09/2008, 07:02 WIB


KUALA LUMPUR, RABU-Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, Selasa (16/9), mengungkapkan telah mendapatkan tambahan dukungan suara anggota parlemen sehingga jumlahnya melebihi yang dibutuhkan untuk menggusur pemerintah koalisi Barisan Nasional Abdullah Ahmad Badawi.

Anwar mendesak Perdana Menteri Abdullah Badawi untuk mengundurkan diri secara sukarela dan damai.

Klaim Anwar itu merupakan yang terkeras yang pernah disampaikannya dan tampaknya bukan sekadar menggertak. Ini kian mengindikasikan Anwar memang benar-benar siap untuk mengambil alih kekuasaan sebagai pemimpin oposisi pertama Malaysia sejak kemerdekaan negara itu tahun 1957.

Ketika dimintai tanggapannya, PM Abdullah Badawi kemarin menyepelekan klaim Anwar itu. ”Ini hanya khayalan Anwar. Itu tidak ada artinya. Itu hanyalah sebuah mimpi,” ujarnya.

Aliansi Pakatan Rakyat, yang merupakan aliansi tiga partai oposisi besar, menempatkan 82 anggotanya di parlemen nasional yang berjumlah 222 orang. Selama enam bulan terakhir, Anwar terus memengaruhi para anggota parlemen Barisan Nasional (BN) yang tidak puas dengan pemerintahan Badawi untuk mendukungnya menjatuhkan Badawi.

Dengan tambahan 30 suara pembelot dari BN, aliansi Pakatan Rakyat bisa mengegolkan mosi tidak percaya terhadap pemerintah, yang bisa membuat pemerintahan Badawi jatuh.

”Kami telah menerima komitmen tegas dari anggota-anggota parlemen melebihi jumlah yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah pemerintahan baru. Saya tidak main-main,” papar Anwar sambil menambahkan, jumlah anggota parlemen itu terus bertambah setiap jam.

Dia mengungkapkan, komitmen-komitmen yang diterimanya akhir-akhir ini datang dalam bentuk sebuah nota dukungan yang ditandatangani. Meski demikian, Anwar menolak menyebutkan jumlah pasti anggota parlemen yang mendukungnya, juga mengungkapkan identitas mereka karena itu akan membuat mereka menjadi target kekerasan, bahkan penahanan pemerintah.

Ditambahkan, aliansi oposisi saat ini tengah mengupayakan pertemuan dengan PM Abdullah Badawi untuk menyampaikan klaim atas pemerintahan dan memberikan kesempatan kepadanya untuk mundur terhormat.

”Kami ingin transisi berlangsung damai. Karena itulah kami tidak menyampaikan sebuah ultimatum (kepada Abdullah Badawi),” papar Anwar.

Senin malam lalu di hadapan massa pendukungnya, Anwar mengatakan ingin memberikan waktu satu atau dua minggu kepada Badawi untuk mengaku kalah dan mundur. ”Ada batas kesabaran seseorang, khususnya saat kita mendapatkan jumlahnya,” kata Anwar.

Dia juga memperingatkan BN agar tidak menerapkan undang- undang keamanan yang keras untuk menangkap anggota parlemen yang membelot.

”Kami yakin kemenangan akhirnya berada di genggaman. Visi kami untuk membangun kembali negara ini sudah dalam jangkauan,” ujar Anwar sambil menambahkan, dirinya akan segera meminta waktu untuk bertemu dengan Raja Malaysia.

Dalam sistem politik Malaysia, menurut James Chin, profesor ilmu politik Monash University Kampus Malaysia, jika Raja berkenan bertemu dengan Anwar, dan pemimpin oposisi itu memaparkan dukungan terhadapnya, Raja bisa meminta ketua parlemen untuk mengadakan pemilihan formal di parlemen atas posisi perdana menteri.

Badawi menegaskan, dirinya tidak akan bertemu dengan Anwar, kecuali pemimpin oposisi itu memiliki sesuatu yang mendasar untuk dibicarakan.

Chin yakin Anwar telah mendapatkan suara mayoritas di parlemen. (AP/AFP/Reuters/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau