Hidayat Nur Wahid Populer Versi JohansPolling

Kompas.com - 17/09/2008, 10:39 WIB

JAKARTA, RABU — Siapa yang dianggap figur yang mewakili representasi kaum muda pada Pilpres 2009? Jawabnya adalah mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera yang kini menjabat sebagai Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Dari hasil JohansPolling periode III nama Hidayat berada di atas, mengungguli dua tokoh muda lainnya.
 
"Tiga besar popularitas tokoh muda nasional diraih Ketua MPR dan aktivis PKS Hidayat Nurwahid (41,8 persen). Kemudian disusul oleh Direktur Eksekutif Freedom Institute Rizal Mallarangeng (13,6 persen), Menko Perekonomian yang juga menjabat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (9,8 persen)," ujar Presiden Lembaga Riset Informasi JohansPolling, Johan O Silalahi, Selasa (16/9) kemarin.
 
Dalam polling "Pemimpin Pilihan Rakyat Menuju Pilpres 2009 atau Menuju 0914" ini, faktor usia muda dan tua, sangat berpengaruh bagi responden dalam menjatuhkan pilihannya pada Pemilu 2009. Sebagian besar responden (54 persen) menyatakan usia muda-tua berpengaruh bagi pertimbangan dalam memilih capres dan cawapres. Sebaliknya, ada 37.6 perseh responden yang memberikan alasan, pemerintahan yang baik tidak tergantung pada usia seorang calon pemimpin.
 
"Satu yang pasti, mayoritas responden memilih capres dan cawapres dari usia muda, sebesar 58 persen. Artinya, untuk periode 2009-2014 animo masyarakat terhadap pemimpin berusia muda sangat tinggi. Inilah yang menjadi ancaman potensial bagi pasangan SBY-JK, atau siapapun yang ingin maju dalam Pemilu mendatang," kata Johan O Silalahi.
 
Polling ini dilakukan di 33 provinsi di Indonesia, terdiri dari 33 kota-99 Desa/Kelurahan dengan menyebarkan kuisioner sebagai instrumen pada 2400 responden. Dilakukan serentak pada 25 Agustus hingga 7 September 2008.
 
Penyebaran responden dilakukan secara proposional, mengacu data perbandingan laki-laki dan perempuan berbanding 50:50. Serta perbandingan desa dan kota yang mengacu data terdekat yaitu 56 persen berbanding 44 persen.
 
Yang menarik dari hasil polling ini terdapat nama-nama baru. Dalam pertanyaan yang diajukan siapa capres dan cawapres yang mampu memimpin Indonesia, terdapat nama Sandiaga S Uno yang menjadi cawapres Hidayat Nurwahid sebesar 10.3 persen. Lalu, ada lagi pasangan Wiranto-Yuddy Chrisnandi (8,3 persen), Sutiyoso-Fadel Muhammad (2,6 persen).
 
Lainnya lagi, terdapat nama Sekjen DPP PDI Perjuangan Pramono Anung yang berpasangan dengan Sri Mulyani (2,6 persen) serta Soetrisno Bachir-Gumilar (2,2 persen). Sementara nama SBY dan Megawati sama-sama berada di atas dari pasangan lainnya sebagai capres paling banyak dipilih oleh responden dari hasil poling ini.
 
Nama Presiden PKS Tifatul Sembiring sama sekali tak masuk dalam hasil poling ini, termasuk saat disurvey kepada responden terkait siapa ketua umum partai politik yang paling populer. Dari hasil ini nama Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri serta Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla berada pada urutan teratas. (Persda Network/Rachmat Hidayat)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau