JAKARTA, KAMIS - Perusahaan asuransi ikut tertimbun harga-harga saham yang ambruk. Sepanjang tahun ini, bursa saham lokal memang terbelit sentimen negatif dari luar negeri.
Bersamaan dengan kejatuhan indeks bursa, tentu nilai investasi perusahaan asuransi di saham turut tergerus. "Pendapatan investasi saham kami negatif. Turun sebesar 12 persen dibanding tahun lalu," kata Anwar Isham Direktur Investasi dan Keuangan PT AJB Bumiputera, kemarin.
Selama sekian minggu belakangan, Bumiputera tak lagi menambah duit di keranjang saham. Kebijakan menjauh dari bursa ini bertujuan untuk membatasi kerugian. Tapi jangan terburu memvonis Bumiputera kapok memutar duit di bursa. "Kami akan terus pantau situasi. Jika situasi pasar sudah membaik, kami akan kembali ke bursa," terangnya.
Andai indeks kembali berlari kencang, Anwar mengaku tak akan ragu untuk menambah dana di kerajang saham. "Situasi ini tak membuat kami anti saham," imbuh Anwar.
Anwar mengatakan hingga akhir tahun nanti AJB Bumiputera hanya berharap dana yang diinvestasikan ke saham bisa balik modal. Situasi bursa yang buruk telah menciutkan pendapatan investasi AJB Bumiputera selama tujuh bulan pertama tahun ini hingga 31,3 persen dari pendapatan di periode yang sama tahun lalu.
Dana cadangan
Setahun lalu, pendapatan investasi selama Januari-Juli sebesar Rp 403 miliar, sementara tahun ini hanya Rp 276 miliar. "Total investasi sebenarnya naik 22,8 persen dari Rp 6,2 triliun pada Januari-Juli 2007 menjadi Rp 7,7 triliun pada Januari-Juli 2008," imbuhnya.
PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) juga tengah tiarap di bursa, supaya terhindar dari kerugian yang lebih besar. "Kami masih tetap mempertahankan saham dan pasti keuntungan turun alias merugi hingga 30 persen. Yang jelas belum ada opsi menjualnya," ungkapnya.
Bakrie Life scat ini termasuk perusahaan asuransi yang getol memutar uang di bursa saham. Hampir 65 persen dana investasi Bakrie Life berputar dalam bentuk saham. "Portofolio terbesar investasi kami masih berupa saham,"'jelas Timur. Sebanyak 15 persen dana Bakrie tersimpan dalam deposito, sebanyak 10 persen dalam obligasi dan sisanya berada di investasi lain.
Dana kelolaan Bakrie Life hingga Juni 2008 sebesar Rp 750 miliar, dan ditargetkan mencapa Rp 850 miliar per akhir tahun ini. Bandingkan dengan dana kelolaan per akhir 2007 yang hanya Rp 550 miliar.
Kenaikan dana kelolaan itu yang menyebabkan pengelola Bakrie Life di awal tahun ini berani memasang tinggi target pendapatan investasi. Bakrie Life semula berharap pendapatan investasi tahun ini naik 20 persen dari perolehan tahun lalu, yang nilainya Rp 120 miliar.
Timoer menuturkan, pihaknya akan menggunakan dana cadangan tahun lalu untuk menutup kerugian investasi tahun ini. "Jumlahnya Rp 70 miliar. Kami rasa itu masih cukup menutup kerugian itu," ucapnya.
Dia hanya berharap bursa bisa kembali pulih. Saat ini, Bakrie Life sendiri cukup terbantu dengan suntikan dana baru dari para pemegang saham sebesar Rp 75 miliar. "Paling tidak risk based capital (RBC) kami tetap," ujarnya. (Purwadi)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang