JAKARTA, KAMIS - Bunga acuan di Indonesia belum tentu bergerak searah dengan bunga di Amerika Serikat. Awal-pekan ini, Federal Reserve mempertahankan Federal Fund, yang menjadi bunga acuan di negeri Paman Sam, sebesar 2 persen. Namun, kebijakan memelihara besaran bunga itu belum tentu diikuti oleh Bank Indonesia.
Pelaku pasar menduga bank sentral akan menimbang seberapa kuat otot rupiah sebelum memutuskan nasib BI rate yang kini sebesar 9,25 [ersen. Jika rupiah tetap terpuruk, bukan tak mungkin BI kembali mengerek bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 9,5 persen pada bulan Oktoher 2008 nanti.
Ekonom Standard Chartered Bank Eric Alexander Sugandi menduga BI akan menaikkan lagi BI rate bulan depan dengan tiga alasan. Pertama, untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Kedua, mengurangi potensi kenaikan inflasi dari imported inflation akibat melemahnya rupiah. Serta ketiga, untuk mengerem laju kredit perbankan yang kelewat kencang.
Kenaikan BI rate memang akan semakin mengeringkan likuiditas di pasar. "Tetapi sebetulnya, saat ini likuiditas di money market juga tidak,terlalu ketat," ujarnya, kemarin.
Kepala Ekonom Bank BNI A. Tony Prasetiantono mengatakan, secara logika BI tidak akan menaikkan suku bunganya karena Federal Reserve menahan Fed Fund. "Ini berarti selisih bunganya masih cukup besar yaitu 7,25 persen dengan posisi BI rate 9,25 persen," kata Tony.
Apalagi inflasi sudah mulai terkendali, begitu harga minyak dunia mulai merosot di bawah 100 dollar AS per barrel. Tony menambahkan, tekanan inflasi yang tersisa saat ini hanya musiman dan sudah bisa diprediksi. Namun, Tony tak menutup kemungkinan BI menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,5 persen. Syaratnya, lagi-lagi, rupiah.
Mendorong rupiah naik
Jika BI rate naik, prediksi Tony, dana kembali mengalir deras. Dan, rupiah bakal kembali bertenaga. "Pengaruhnya sebetulnya tidak akan terlalu besar, tetapi cukup meredakan kepanikan di pasar keuangan sehingga rupiah bisa lebih stabil," jelasnya. Dengan kenaikan suku bunga BI, rupiah mungkin akan kembali bisa ditarik ke bawah Rp 9.400 per dollar AS.
Tony memprediksi sampai akhir tahun, BI rate masih ada kemungkinan bergeser ke kisaran 9,5 persen hingga 9,75 persen. "Kalau misalkan BI menaikkan BI rate pada bulan Oktober, kemungkinan BI bakal mengerek BI rate di bulan Desember untuk meredam laju inflasi," imbuhnya.
Sedangkan Direktur Treasury Bank Lippo Gottfried TampuboIon termasuk yang berharap BI rate tak akan bergerak lebih tinggi. la punya alasan mengapa BI sebaiknya menahan BI rate di 9,25 persen. "Kalau BI kembali menaikkan bunga, justru memberi konfirmasi ke pasar bahwa bunga akan terus naik," ujarnya
Kenaikan ini juga memberi efek psikologis bahwa likuiditas bakal tambah seret. Padahal menurut Gottfried, dalam praktiknya bank-bank justru sudah memberikan bunga simpanan yang jauh lebih tinggi ketimbang bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Tak hanya itu, kenaikan BI rate nanti juga akan mengakibatkan efek berantai kepada kenaikan suku bunga kredit oleh perbankan. Konsekuensi buruknya, hal itu bisa berimbas kepada kenaikan rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) perbankan. (Khomarul Hidayat, Magdalena Sihite)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang