Gonjang-ganjing pasar finansial Amerika Serikat bukan saja berdampak pada transaksi keuangan global. Turbulensi finansial itu diprediksi masih akan berlanjut dan dikhawatirkan bergulir menghantam sektor riil. Di Indonesia, ancaman krisis itu menjadi peringatan keras bagi struktur dasar industri dan perdagangan yang rapuh.
Kinerja perdagangan Indonesia dibelit oleh dominasi komoditas primer. Sekitar 47 persen dari total nilai ekspor Indonesia yang mencapai 83,03 miliar dollar AS pada Januari-Juli 2008 disumbang oleh minyak, gas, minyak sawit mentah, batu bara, dan karet.
Perdagangan juga dibayangi ketergantungan pada pasar tradisional ekspor, yakni Amerika Serikat, Jepang, dan kawasan Uni Eropa.
Wakil Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri untuk Pengembangan dan Pemasaran Produk Handito Hadi Joewono mengingatkan, dalam perdagangan komoditas primer, otoritas pasarlah yang lebih menentukan besaran suplai dan nilainya.
Cita-cita memperluas pasar ekspor keluar dari lingkup pasar tradisional perlu menempatkan produk manufaktur sebagai ujung tombak. Di sektor manufaktur, jaringan produksi regional dan internasional terbentuk. Kebutuhan dan minat pasar pun bisa diolah untuk menambah nilai jual produk manufaktur.
Pada simpul ini tampak nyata bahwa problem besar perdagangan Indonesia tak lepas dari melemahnya sektor industri nasional. Beberapa tahun terakhir, industri manufaktur tumbuh jauh lebih rendah daripada laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I-2008 mencapai 6,4 persen, sedangkan industri hanya tumbuh 4,1 persen. Artinya, pertumbuhan ekonomi lebih banyak didorong oleh sektor-sektor padat modal, seperti telekomunikasi, keuangan, dan jasa ritel.
Kondisi ini menciptakan ironi karena sektor industri manufaktur adalah penyedia lapangan kerja formal terbesar. Melalui sektor ini, daya beli masyarakat luas diharapkan terdongkrak. Sebaliknya, tumpuan terhadap sektor jasa atau perdagangan nonbarang (non-tradable) membentuk kesenjangan pendapatan yang makin dalam.
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) serta alas kaki adalah potret utama sektor industri yang menjadi tumpuan penciptaan lapangan kerja. Kedua subsektor industri ini berorientasi ekspor.
Baik produk tekstil maupun alas kaki Indonesia bukanlah tuan di negeri sendiri. Produk lokal ini kalah bersaing dengan produk impor yang lebih murah, khususnya dari China. Harga produk yang menggiurkan itu antara lain terbentuk oleh efisiensi yang tinggi dari proses hulu hingga ke hilir sistem produksi.
Amerika Serikat (AS) menjadi pasar ekspor utama bagi produk tekstil dan alas kaki buatan dalam negeri yang berkualitas kompetitif. AS menyerap 43 persen dari 10,06 miliar dollar AS nilai ekspor TPT Indonesia pada tahun 2007. Sekitar 60 persen dari 1,6 miliar dollar AS nilai ekspor sepatu pada tahun 2007 juga diserap pasar AS.
Ketika pasar finansial AS diancam kebangkrutan, kekhawatiran kini menghantui kalangan pelaku industri yang berorientasi ekspor.
Menelan pil pahit
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Soetrisno memprediksi penurunan permintaan pasar AS tak terhindarkan pada triwulan I-2008. ”Belum tahu seberapa besar penurunannya, tetapi sejumlah ritel besar di sana sekarang sudah mengurangi toko. Artinya barang juga pasti dikurangi,” ujarnya.
Penurunan permintaan pasar AS bukan hanya akan dialami Indonesia, tetapi juga berbagai negara pengekspor lain, termasuk China. Dorongan bagi raksasa ekonomi Asia itu untuk mengalihkan ekspor dari AS ke kawasan Asia Tenggara semakin kuat karena biaya pengangkutan ke kawasan ini tentu lebih rendah daripada ke AS. Karena itu, produk bisa dijual lebih murah.
Anggota Dewan Penasihat Asosiasi Persepatuan Indonesia, Anton J Supit, mengingatkan, pasar domestik idealnya menjadi harapan ketika permintaan ekspor melemah.
”Dengan penduduk sedemikian besar dan daya beli yang baik, China lebih aman karena bisa terselamatkan oleh konsumsi domestik, selain pengalihan pasar ekspor,” ungkap Anton.
Kenyataan yang berbeda dihadapi eksportir Indonesia. Sebagian besar penduduk di negeri ini masih bergulat dengan daya beli yang rendah. Artinya, produk yang lebih murah menjadi pilihan utama di pasar lokal. Apalagi, harga yang lebih murah itu dibarengi kualitas lebih baik.
Data Asosiasi Pertekstilan Indonesia menunjukkan, penguasaan produk TPT di pasar lokal hanyalah 22 persen dari 1,22 juta ton total konsumsi 2007. Dalam kondisi demikian, pasar lokal tak menjanjikan harapan bagi produsen dalam negeri.
Pilihan yang harus ditempuh adalah mengupayakan pasar baru bagi produk ekspor. Negara-negara di Amerika Selatan dan Timur Tengah saat ini menjadi incaran produsen tekstil Indonesia. Namun, pasar yang sama juga sedang dibidik oleh China, India, dan Pakistan.
”India bahkan sudah membuat perjanjian perdagangan bebas dengan Cile, sedangkan Indonesia malah bikin perjanjian perdagangan bebas dengan China lewat ASEAN. Dengan China, pasar Indonesia yang lebih leluasa dimanfaatkan,” ujar Benny.
Hukum alam
Seperti hukum alam, ketika permintaan pasar melemah, kompetisi semakin ketat. Kualitas produk yang kian baik mesti disertai harga yang makin murah. Pembentukan harga produk itu tak luput dari pengaruh infrastruktur pendukung proses produksi, sistem fiskal, dan tingkat bunga kredit.
Upaya eksportir menembus pasar ekspor baru yang potensial, seperti Rusia dan Timur Tengah, juga kerap terbentur oleh sistem perbankan nasional yang belum fleksibel mengakomodasi beragam instrumen pembayaran.
Ketika pasar baru sulit ditembus, eksportir pun memilih menelan pil pahit. ”Tetap menjual meski rugi, asalkan ruginya tak terlalu besar. Itu harus ditempuh agar tidak kehilangan pasar. Masalahnya, tinggal adu kuat dengan waktu. Berapa lama kami kuat bertahan,” ujar Benny.
Kinerja ekspor adalah sandaran perekonomian negeri ini. Diversifikasi pasar ekspor pun tak bisa ditunda. Namun, banyak pekerjaan lintas sektoral yang harus dirampungkan, bukan hanya melulu diwacanakan.