Indonesia Punya 270.000 PSK dengan Pelanggan 10 Juta Orang

Kompas.com - 21/09/2008, 05:23 WIB
SEMARANG - Masalah kesehatan di Indonesia semakin kompleks dan berat dengan suburnya jumlah penderita HIV/AIDS. Sejak kasus pertama ditemukan pada 1987 angka kejangkitan terhadap penyakit ini terus meningkat.

"Bahkan, lima tahun terakhir ini kenaikannya sangat tajam. Walau secara keseluruhan Indonesia masih merupakan negara dengan prevalensi rendah, Indonesia mempunyai potensi menjadi epidemi karena faktor risiko tinggi," kata Budi Laksono, Medical Doctor, Master Of Reproductive Health President Rotary Club Semarang di Semarang, Sabtu (20/9).

Ia menjelaskan, UNDP mengestimasikan, pada 2003 di Indonesia terdapat 190.000-270.000 pekerja seks komersial dengan 7-10 juta pelanggan. Sementara itu, penggunaan kondom di bawah 10 persen (sekitar 5,8 persen).

Faktor risiko tersebut adalah dua hal yang menjadi penyebab tingginya penularan HIV/AIDS, yaitu hubungan seksual yang tidak sehat dan penggunaan jarum suntik bersama oleh para pengguna narkoba.

Pusat Penelitian Badan Narkotika Nasional dan Puslitkes Universitas Indonesia (2004) mencatat, 3,2 juta masyarakat Indonesia menggunakan narkoba. Dari jumlah ini kelompok pecandu dan penggunaan heroin suntik meliputi 62 persen.

Sementara itu, kematian disebabkan oleh HIV/AIDS pada 2004 diestimasikan sekitar 5.500 orang. Umumnya, kematian diderita mereka pada usia produktif, umumnya keluarga mulai dibangun.

Penularan HIV/AIDS sangat rawan terhadap pasangan hidup dan juga anak. Selain memunculkan problem sosial keluarga baru, kondisi ini juga menyebabkan penurunan produktivitas bangsa secara umum.

Sejak penyakit HIV/AIDS diidentifikasikan pada 1983, HIV/AIDS telah menjadi pandemi dan problem kesehatan utama di dunia hingga saat ini.

WHO pada  2003 mengestimasikan, 37,8 juta orang terinfeksi HIV/AIDS. Pada tahun 2005 akhir estimasi menjadi 53,6 juta (UNAIDS report 2006). Pada 2007 estimasi menggunakan perhitungan baru dengan jumlah 33 juta, tetapi yang sudah meninggal 23 juta orang (UNAIDS report 2008).

Mengenai infeksi baru per tahun meningkat dratis dari 4 juta menuju 8 juta. Angka kesakitan tidak pernah menurun karena tidak ada penyembuhannya, penurunan angka kejadian terjadi karena kematian.

"Kematian yang disebabkan HIV/AIDS sudah menjadi penyebab utama kematian di banyak negara. Kondisi Ini memperparah kesakitan dan kematian karena infeksi yang masih menjadi problem besar di sebagaian besar negara di dunia," katanya.

Upaya pecegahan penularan telah dilakukan di seluruh dunia. WHO telah memelopori dengan menyusun strategi manajemen yang diharapkan bisa diaplikasikan di seluruh negara dengan melibatkan stakeholder (pihak terkait) secara terpadu, komprehensif, dan terus menerus .

WHO menyatakan untuk penularannya, Indonesia masih termasuk dalam kriteria not under control. Hal ini disebabkan kampanye perubahan perilaku dalam mencegah HIV/AIDS belum signifikan.

Walau dalam tataran kebijakan nasional, katanya, pemerintah, dalam hal ini Menkokesra, telah membuat strategi yang komprehensif, kenyataan pelaksanaan di lapangan masih belum signifikan. "Hal ini menunjukkan pentingnya pengelolaan HIV/AIDS yang cepat, terpadu, dan komprehensif. Bahkan, pendidikan perilaku sehat sudah waktunya dilakukan di semua lini, termasuk dunia kerja," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau