Rubrik Konsultasi Kesehatan asuhan Prof Dr Samsuridjal Djauzi di surat kabar KOMPAS edisi Minggu:
Adik bungsu saya, laki-laki (19), tertular hepatitis C. Ia memang pernah menggunakan narkoba suntikan ketika berumur 17 tahun. Untunglah tes HIV yang ia lakukan baru-baru ini menunjukkan hasil negatif.
Sekarang ia dalam keadaan sehat dan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. Karena ibu dan ayah tinggal di kota lain, adik bungsu tinggal bersama saya, kakak perempuan tertuanya.
Saya sudah menikah dan mempunyai dua anak berumur lima dan tiga tahun. Jadi, di rumah ada saya, suami, dua anak, adik saya, dan seorang pembantu rumah tangga.
Suami saya selalu mengungkapkan kekhawatiran anak-anak akan tertular hepatitis C dari adik saya. Ia mengatur agar peralatan makan adik saya dipisah dan tak boleh dipakai orang lain. Saya sendiri tak dapat berbuat banyak meski saya tahu adik saya merasa tak nyaman dengan perlakuan seperti itu.
Saya pernah membaca bahasan mengenai hepatitis C di ruang konsultasi ini, tetapi saya sudah tak ingat lagi cara penularan penyakit ini.
Bagaimana cara penularan hepatitis C? Apakah hepatitis C dapat menular melalui pergaulan biasa, termasuk alat makan? Mohon juga penjelasan Dokter mengenai kemajuan terapi hepatitis C. Mungkinkah adik saya berkeluarga kelak? Apakah ada kemungkinan punya anak tanpa menularkan hepatitis C kepada istrinya? Terima kasih atas penjelasan Dokter.
M di J
Hepatitis C merupakan penyakit yang cukup sering dijumpai di Indonesia. Kekerapan hepatitis C di masyarakat sekitar 4 persen dan kekerapan di kalangan pengguna narkoba suntikan dapat mencapai 80 persen.
Adik Anda beruntung tes HIV-nya negatif karena kekerapan HIV juga tinggi pada pengguna narkoba suntikan. Saya merasa turut bergembira adik Anda sudah dapat berkuliah. Perjuangan melawan adiksi narkoba suntikan merupakan perjuangan panjang dan melelahkan. Syukurlah adik Anda bebas dari pengaruh adiksi tersebut dan sudah tentu ia juga berniat merancang masa depannya. Dukungan Anda sekeluarga amat penting dalam keberhasilan adik Anda menapak masa depannya.
Sebenarnya penularan hepatitis C tidaklah semudah hepatitis B. Keduanya ditularkan melalui cairan tubuh. Hepatitis C memang juga didapatkan pada cairan tubuh, tetapi penularan hepatitis C melalui alat makan tidaklah efektif. Artinya Anda tak perlu merasa khawatir dengan penularan melalui cara ini.
Penularan hepatitis C biasanya terjadi melalui transfusi darah dan alat suntik (yang biasanya digunakan bersama oleh pengguna narkoba suntikan). Hepatitis C juga dapat ditularkan melalui hubungan suami-istri, tetapi risiko penularan tidaklah sebesar HIV. Dengan demikian, Anda tak perlu merasa khawatir serumah dengan penderita hepatitis C.
Dewasa ini tersedia obat hepatitis C. Sebagian besar hepatitis C akan menjadi hepatitis kronik dan sebagian setelah sekitar 20 tahun akan menjadi sirosis hati. Penderita dengan sirosis hati dapat mengalami berbagai komplikasi, di antaranya muntah dan berak darah (hematemesis melaena), peritonitis (infeksi selaput dinding perut), serta koma hepatis. Bahkan, sebagian sirosis hati juga dapat menjadi kanker hati yang biasanya sukar diobati dan dapat mengakibatkan kematian dalam jangka waktu tak lama.
Terapi hepatitis C dilakukan dengan interferon dan ribavirin. Pemberian interferon dilakukan dengan suntikan dan ribavirin berbentuk kapsul diminum. Obat ini cukup efektif, tetapi mahal. Terapi memerlukan waktu enam bulan sampai satu tahun.
Anda dapat berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan apakah adik Anda merupakan kandidat yang baik untuk terapi interferon dan ribavirin. Jika terapi berhasil baik, adik Anda akan terbebas dari hepatitis C.
Banyak orang tak mampu menjangkau terapi yang mahal ini. Mereka perlu menjaga kesehatan dengan baik dan teratur memeriksakan diri untuk mengetahui perjalanan penyakit hepatitis C-nya.
Risiko penularan pada hubungan suami-istri, seperti dikemukan, sebenarnya rendah, tetapi dapat diturunkan lagi dengan penggunaan kondom.
Sampai sekarang vaksin hepatitis C masih dalam proses penelitian sehingga kita belum dapat mencegah hepatitis C dengan imunisasi. Jika adik Anda belum mempunyai kekebalan terhadap hepatitis A dan hepatitis B, sebaiknya dia mendapat vaksinasi hepatitis A dan hepatitis B.
Kesempatan punya anak amat terbuka. Penderita hepatitis C dapat hidup normal, tetapi jangan lupa berkonsultasi berkala dengan dokter.
Dalam kehidupan ini sudah tentu kita pernah berbuat kesalahan. Adik Anda pernah menggunakan narkoba, tetapi sekarang ia sudah bangkit kembali dan berusaha untuk mengukir masa depannya. Mudah-mudah kita semua menyadari kita dapat memberi dukungan kepada remaja seperti adik Anda sehingga ia berhasil menjadi manusia mandiri dan bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang