Pemerintah Alirkan Rp 60 Triliun ke Perbankan

Kompas.com - 22/09/2008, 04:09 WIB
JAKARTA, SENIN - Pemerintah akan mengalirkan dana hingga Rp 60 triliun ke perbankan nasional sebagai upaya menekan rendahnya likuiditas. Upaya perbankan nasional menarik dana masyarakat dengan perang suku bunga diharapkan bisa diredam.

”Kami membuat semacam bridging (dana talangan) agar perbankan tidak memiliki urgensi mengejar nasabah hanya karena adanya selisih waktu dari aliran dana tunai pemerintah. Itu pun kami lakukan melalui koordinasi dengan Bank Indonesia. Jika BI mengatakan sudah cukup, saya tidak perlu menambah dana lagi,” ujar Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Jumat (19/9).

Menurut Sri Mulyani, pengaturan jadwal pencairan dana tersebut dikonsultasikan dengan BI sebagai otoritas moneter, yang antara lain bertanggung jawab mengawasi laju inflasi. Namun, sudah dapat dipastikan dana sekitar Rp 18 triliun akan digelontorkan dalam waktu dekat untuk membayar gaji PNS, anggota TNI/Polri, serta pensiunannya. Jadwal penyalurannya dipercepat dari rencana awal pada 4 Oktober 2008 menjadi 25 September 2008.

Namun, di luar gaji, pemerintah masih akan mengeluarkan dana Rp 25 triliun pada Oktober, November, dan Desember 2008 sehingga total dana di luar gaji menjadi minimal Rp 60 triliun. Pemerintah memang masih memiliki dana yang tersimpan di BI dan mencapai Rp 120 triliun, baik dalam bentuk valuta asing maupun rupiah.

”Seluruh syarat pencairan, termasuk DIPA (daftar isian pelaksanaan anggaran) sudah kami siapkan. Jadi, jangan sampai perbankan itu merasa belum cukup memiliki likuiditas, lalu mereka terus mengejar-ngejar nasabah dengan menawarkan bunga tinggi,” ujar Sri Mulyani.

Saat ini beberapa bank swasta masih tetap bertahan dengan menawarkan suku bunga deposito tinggi hingga 8,25 persen per tahun. Namun, untuk bank-bank milik negara, seperti BNI, Bank Tabungan Negara, Bank Mandiri, dan Bank Rakyat Indonesia, rata-rata bertahan pada kisaran 5,5 hingga 6,5 persen per tahun.

Dongkrak inflasi

Pengamat ekonomi senior Indef, Fadhil Hasan, mengatakan, kucuran dana pemerintah dalam jumlah besar berpotensi mendongkrak laju inflasi menjadi lebih tinggi dibandingkan biasanya. Apalagi, ada kebijakan BI yang menurunkan penyerapan likuiditas dari operasi pasar terbuka. Atas dasar itu, tidak semua dana yang dicairkan pemerintah akan langsung diserap oleh sistem perbankan, melainkan langsung oleh masyarakat.

Sebenarnya, pemerintah tidak perlu mencairkan dana terlalu tinggi karena likuiditas di pasar domestik masih tersedia untuk memenuhi permintaan kredit dan transaksi masyarakat. Namun, risiko akibat gejolak keuangan global telah membuat perbankan khawatir akan kekurangan likuiditas.

”Inilah salah satu dampak dari gejolak keuangan yang mengorbankan upaya pengendalian inflasi yang tengah meningkat pada bulan Ramadhan ini. Jadi, kucuran dana pemerintah ini harus diikuti oleh pasokan barang yang mencukupi supaya tekanan terhadap inflasi tidak datang dari dua arah, dari sisi pasokan atau permintaan,” ujar Fadhil.

Laju inflasi pada Agustus 2008 tercatat 0,51 persen. Dengan demikian, laju inflasi kumulatif pada Januari-Agustus 2008 mencapai 9,4 persen. Peningkatan laju inflasi tahun ini diperkirakan belum akan mereda. Oleh karena itu, kenaikannya masih harus diwaspadai hingga akhir tahun ini. Dengan inflasi Agustus 2008 itu, total laju inflasi tahunan year on year (Agustus 2008 terhadap Agustus 2007) telah mencapai 11,85 persen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau