Tiga Rekaman Diputar, Al Amin Tetap Bantah

Kompas.com - 22/09/2008, 17:59 WIB

JAKARTA, SENIN - Meski tiga rekaman diputar di persidangan dan terbukti bahwa suara itu memang benar suaranya, anggota Komisi IV DPR RI, Al Amin Nur Nasution, tetap membantah pernah berkomunikasi dengan sejumlah anggota DPR dan pejabat Departemen Kehutanan terkait dengan kasus alih fungsi hutan lindung di Bintan dan Tanjung Pantai Air Telang, serta kasus pengadaan alat di Dephut.

Rekaman pertama, merupakan percakapan antara Al Amin dan Anggota Komisi IV DPR Azwar Chesputra, yang berlangsung pada 24 November 2007 pukul 14.53. Pada rekaman tersebut, Azwar meminta agar Al Amin meminta uang tambahan kepada Sekda Bintan, Azirwan, sebesar Rp2 miliar. Berikut percakapan antar keduanya:

Azwar (Az): Halo, friend. Lagi dimana? Lagi tidur?

Al Amin (AA): Oh, enggak. Aku lagi nemenin istri, lagi mau latihan nyanyi dia.

Az: Waduh, sayang betul nih bapak sama istri.

AA dan Az: Hahaha...

Az: Jadi gini, saya kan dibocori sama Anton, ketemu kita. Sama rudi kan, sore ini sekitar jam 4 atau 5 di sekitar Thamrin.

AA: Aku ini di Ancol. Carilah tempat yang dekat-dekat sini.......

AA: Itu Sekda Bintan gimana?Az: Iya, habis maghrib saja.

AA: Iya, itu Sekda Bintan gimana ngomongnya?

Az: Untuk itu kan, jadi untuk pimpinan sama kita. Suruh tambah saja dia Rp2 miliar.

AA: Hahaha... ndak mungkin. Ndak mungkin lah. Bisa lepas celana, dia.

Pecakapan tersebut merupakan percakapannya terkait kasus RATP dan pelepasan hutan lindung Bintan.

Kemudian, Ketua Majelis Hakim Edward Pattynasarani, bertanya apakah AL Amin sudah percaya bahwa itu suaranya. Al Amin menjawab, "Maaf Yang Mulia, tidak tahu saya.""Jadi disangkal?" tanya Edward kembali.

Oleh karena itu, majelis memberi izin JPU untuk memutarkan rekaman yang kedua. Kali ini memuat pembicaraan tentang kasus Tanjung APi-APi. Percakapan antara Al AMin dan Azwar Chesputra tersebut terekam pada 14 Desember 2007 pukul 15.57.

AA: Nyampe ndak?

Az: Nyampe

AA: Hihihihihihihihi....

Az: Yang penting begitu. Kan ndak nerima duit.

AA: Yang nerima siapa kemarin?

Az: Hah?

AA: Yang nerima siapa?

Az: Ndak ada. Ndak ada kita yang nerima duit

AA: Hah? Sarjan?

Az: Yaaa, ndak ada kan kita yang nerima duit. Itu yang penting, yang kedua itu prosedur yang kita lalui kok. Kita ndak pernah terima duit dari pemerintah daerah. Mau di manapun, penyelidikan, penyidikan, ada dikupas. Kita ndak terima duit dari pemerintah daerah terkait pelepasan kawasan hutan lindung.

AA: Hahahaha....

Az: Berani kita bersumpah kan.

Mendengar rekaman kedua ini pun AL Amin mengaku lupa. "Saya tidak ingat Yang Mulia," jelasnya.Untuk ketiga kalinya, JPU berusaha membuat Al AMin bertekuk lutut dengan memutarkan rekaman, di mana Al Amin menyebutkan namanya sendiri.

Rekaman kali ini terkait dengan pengadaan alat di Departemen Kehutanan antara Al Amin dan Ali Arsyad pada 15 November 2007 pukul 20.49.

Az: Halo.

AA: Halo mas. Amin, Amin ini.

Az: Iya-iya.

AA: Jadi begini, kemarin orang dari data skript, entah melalui siapa tiba-tiba kontak. Dia minta waktu ketemu sama saya. Tapi sampai hari ini belum ketemu. Saya juga masih harus koordinasi dulu dengan Pak Ali kan?

Az: Iya-iya.

AA: Saya juga harus nemenin ketua komisi untuk ketemu dengan orang di Hotel Hyatt. Dia nelepon, saya bilang entar-entar dulu. Saya keluar ruangan kan, enggak enak kalau dia tahu kan.

Az: Betu, betul, betul.

AA: Jadi gini, kalau memang enggak bisa dimenangkan ya, kita sudah maksimal juga. Tinggal bagaimana juga mereka harus ada kontribusi....

"Masih ingat soal itu?" tanya Edward. "Enggak jelas saya Yang Mulia," tutur Al AMin."Mmm... ga jelas," tanggap Edward.(BOB)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau