Sampul Kuning Bambang Hendarso Dipertanyakan

Kompas.com - 22/09/2008, 18:06 WIB

JAKARTA, SENIN - Ini mungkin bisa jadi perhatian bagi para calon pejabat negara yang akan menjalani uji kelayakan dan kepatutan di DPR. Hati-hati memilih warna dominan pada bahan presentasi yang akan dipaparkan.

Sebab, para politisi Senayan sangat sensitif dengan warna. Salah-salah, diduga menjadi simpatisan salah satu partai. Seperti yang terjadi pada calon Kapolri Komjen Bambang Hendarso Danuri.

Meskipun hanya gurauan, anggota Komisi III Albab Papruka mempertanyakan komitmen kenetralan yang disampaikan Bambang. Mau tahu alasannya? Bambang menggunakan warna dominan kuning untuk menjadi sampul bahan presentasinya yang berjudul "Akselerasi Transformasi Polri Menuju Polri yang Profesional, Bermoral, Modern dan Dipercaya Masyarakat".

"Politisi itu sensitif dengan warna. Ini apa maksudnya pakai dominan warna kuning? Katanya netral? Kenapa tidak pilih hijau, merah atau biru?," tanya Albab saat fit and proper test calon Kapolri di Gedung DPR, Senin (22/9).

Di akhir jawabannya atas seluruh pertanyaan anggota komisi, Bambang ternyata merasa perlu memberikan jawaban. "Tidak ada yang memaknai, mengapa saya memilih warna kuning polos. Jadi jangan diartikan apa-apa, kami (Polri) tetap netral," ujarnya sambil tersenyum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau