JAKARTA, SELASA - Perbankan masih haus likuiditas. Ini terlihat dari larisnya transaksi repurchase option (repo) alias gadai Surat Utang Negara dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang ditawarkan Bank Indonesia (BI). Para bankir berburu dana segar dalam dua transaksi repo yang digelar BI sepanjang sepekan terakhir.
Akhir pekan lalu, dana tunai yang tersalur melalui repo berjangka waktu enam hari mencapai Rp 4,5 triliun. Sementara dalam repo kemarin (19/9), perbankan memancing likuiditas senilai Rp 4,74 triliun dari gadai surat berharga dengan jangka waktu 14 hari.
Kendati mengakui repo bertujuan untuk menambah Likuiditas, namun Direktur Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dyah Nastiti K Makhijani membantah larisnya repo berarti perbankan sedang haus dana. "Penambahan dana ini merupakan langkah antisipasi," ujarnya, kemarin.
Gonjang-ganjing yang terjadi di pasar keuangan dunia menjadi alasan BI melakukan antisipasi ini. Masalah yang melanda sektor finansial di negeri Paman Sam, sedikit banyak berimbas ke Likuiditas di dalam negeri. Sementara di saat bersamaan, bank butuh Likuiditas untuk mengimbangi laju pertumbuhan kredit yang kencang. "Semuanya sedang terjadi di saat bersamaan," kilah Dyah.
Hari Raya Lebaran juga menjadi perhitungan BI untuk menjaga kecukupan likuiditas di bank. Soalnya, menjelang hari raya, kebutuhan uang tunai membludak.
Salah satu bank yang mengaku telah memanfaatkan fasilitas repo BI adalah Bank Bukopin. "Jumlahnya tak terlalu banyak, hanya sekitar Rp 500 miliar," kata Direktur Keuangan dan Perencanaan Bank Bukopin Tri Joko Prihanto.
Joko membantah Bukopin ikut repo karena sedang sulit Likuiditas. Namun, "Kami memanfaatkan repo karena bunganya menarik. Kalau memang perlu, kami akan ikut repo lagi," imbuh Joko. Sekarang, bunga repo berkisar 1 persen di atas bunga BI rate.
Tapi, ada juga bank-bank yang masih belum mau memanfaatkan fasilitas- BI ini. "Likuiditas kami masih cukup. Kalau perlu dana, kami tinggal menggunakan deposito atau mencairkan SBI," kata Direktur Bank UOB Buana Safrulah Hadi Saleh.
Bank International Indonesia (BII) juga mengaku tak berminat menggunakan fasilitas repo. "Likuiditas kami masih cukup," tandas Wakil Direktur Utama BII Sukatmo Padmosukarso. (Sanny Cicilia, Arthur Gideon, Magdalena Sihite)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang