JAKARTA, KOMPAS - Untuk mengatasi gelombang urbanisasi pasca-Lebaran, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan operasi yustisi kependudukan. Operasi dipusatkan di 33 lokasi kedatangan warga.
Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta, Franky Mangatas Panjaitan, Selasa (23/9), mengatakan, operasi yustisi kependudukan itu akan digelar sejak tujuh hari menjelang dan sampai tujuh hari sesudah Lebaran.
Sebelum Lebaran, kata Franky, petugasnya akan menyebarkan imbauan kepada para pemudik untuk tidak membawa saudara-saudara mereka ke Jakarta, saat arus balik nanti. Sebanyak 100 spanduk sudah dipasang di sejumlah lokasi untuk mencegah orang membawa pendatang baru ke Jakarta.
Franky mengatakan, setelah Lebaran petugasnya akan memantau kehadiran pendatang baru di setiap simpul transportasi, seperti stasiun, pelabuhan, terminal, dan bandara. Pintu tol dan sejumlah jalan arteri yang menjadi pintu masuk ke Jakarta juga dipantau.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, Jakarta sudah terlalu penuh penduduk sehingga sering muncul berbagai masalah sosial, mulai dari permukiman liar, pengangguran, kemiskinan, sampai kriminalitas. Penambahan penduduk yang tidak memenuhi persyaratan justru akan memperberat masalah sosial di Jakarta.
Pendatang yang memenuhi syarat, kata Franky, adalah yang memiliki pekerjaan, tempat tinggal, dan identitas yang jelas.
”Pendatang yang memenuhi persyaratan silakan datang ke Jakarta. Namun, pendatang yang tidak memenuhi persyaratan jangan coba-coba datang,” kata Franky.
Operasi yustisi kependudukan akan digelar bersama dengan aparat Dinas Ketentraman dan Ketertiban, Kepolisian, dan Kejaksaan. Setiap pendatang yang terjaring operasi itu dan kedapatan tidak memenuhi syarat akan dipulangkan ke daerah masing-masing.
Pada 2007, operasi yustisi yang digelar pasca-Lebaran menjaring 1.140 pendatang yang tidak memenuhi syarat. Sebagian besar dari mereka dipulangkan ke daerah asal.
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, jumlah pendatang ke Jakarta pasca-Lebaran pada 2007 mencapai sekitar 109.000 orang. Jumlah itu merupakan selisih antara warga yang mudik dan yang balik ke Jakarta setelah Lebaran.
Jumlah itu lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pendatang pada 2006 yang mencapai 125.000 orang. Mereka biasanya datang dari Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Lampung.
Arus mudik
Sampai delapan hari sebelum Lebaran, arus mudik di sejumlah stasiun dan terminal di Jakarta belum terasa. Namun, persiapan untuk menyambut peningkatan jumlah pemudik sudah digelar.
Selain persiapan reguler, seperti pos kesehatan dan keamanan, para pengelola stasiun dan terminal sudah menjalin komunikasi di antara mereka.
Fauzi Bowo mengatakan, jika terjadi lonjakan jumlah penumpang di stasiun kereta api, pihak stasiun akan melimpahkan para penumpang ke terminal-terminal terdekat agar dapat diangkut dengan bus. Demikian juga jika di terminal terjadi kelebihan jumlah penumpang di terminal dan di stasiun masih ada kereta api yang sanggup mengangkut penumpang.
”Saya berharap para pemudik tidak terkatung-katung di terminal atau stasiun. Informasi ketersediaan angkutan mudik sangat penting bagi warga yang tidak kebagian angkutan,” kata Fauzi Bowo saat meninjau kesiapan Stasiun Pasar Senen.
Fauzi juga menekankan perlu adanya antisipasi terhadap para calo di puncak arus mudik. Calo-calo itu bukan hanya merugikan pemudik karena menaikkan harga sangat tinggi, tetapi juga mengecilkan peluang warga mendapatkan tiket.
Arus mudik akan terjadi pada tiga sampai lima hari menjelang Lebaran, mendekati libur akhir pekan. (ECA)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang