Yang Huiyan, 27 Tahun Jadi Wanita Terkaya Asia

Kompas.com - 24/09/2008, 11:04 WIB

JAKARTA, RABU -  Jika mengamati perekonomian China dalam beberapa tahun terakhir, kita semua pasti berdecak kagum. Maklum, ekonomi China tumbuh dengan sangat subur. Pada tahun 2002, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China baru mencapai 4,4 persen. Namun, pada kuartal kedua tahun ini, pertumbuhan PDB China sudah melesat 10,1 persen. Itu pun sudah sedikit melambat karena terseret perlambatan ekonomi global.

Fenomena lain yang terjadi di Negeri Panda itu adalah perpindahan penduduk ke kota-kota besar. Akibat tingkat urbanisasi yang yang tumbuh cepat itu, permintaan rumah di perkotaan juga ikut melonjak. Tak hanya itu, kemajuan ekonomi juga membuat banyak perusahaan baru tumbuh di China. Banyak investor asing pun masuk ke China dan menanamkan modalnya di sana. Seiring dengan modernisasi yang pesat, gedung-gedung yang sudah uzur pun tergusur dan gedunggedung baru bermunculan.

Singkatnya, sektor properti China pun tumbuh pesat. Dalam kondisi ini, tak perlu heran jika para orang kaya baru di China berlomba membiakkan kekayaannya dalam bentuk properti.

Akibatnya, dalam delapan tahun terakhir, harga properti China telah naik lima kali lipat. Pemerintah China memang berupaya menekan tingginya harga properti dengan mengeluarkan banyak aturan. Namun, usaha itu tak cukup mampu meredam lonjakan harga properti.

Nah, para pengusaha properti tentu menangguk rezeki melimpah dari kondisi ini. Karenanya, wajar saja jika orang terkaya di China saat ini merupakan pebisnis properti. Yang Huiyan, namanya. Wanita muda yang baru berusia 27 tahun ini memiliki kekayaan mencapai 7,4 miliar dollar AS. Majalah Forbes menobatkan Huiyan sebagai orang terkaya ke-125 di seluruh dunia pada tahun ini.

Forbes juga menobatkan Huiyan sebagai wanita terkaya di seluruh China. la menggusur posisi Hui Wing Mau yang mengantongi kekayaan bersih  7,3 miliar dollar AS. Asal tahu saja, orang terkaya kedua di China ini juga memiliki bisnis utama di bidang properti. Sedangkan posisi ketiga diduduki Guo Guangchang, seorang konglomerat yang menggeluti bisnis real estat, ritel, dan manufaktur, dengan kekayaan bersih 4,85 miliar dollar AS. Selain itu, Huiyan pun menjadi wanita terkaya di Asia.

Sedikit kilas balik, Huiyan lahir pada tahun 1981. Kisah kekayaannya hampir seperti cerita dongeng. Tak seperti orang tajir di China lainnya yang mencetak uang dari usahanya sendiri, Huiyan menjadi kaya raya lantaran menjadi pewaris kekayaan ayahnya.

Ayahnya memang telah menyiapkan Huiyan menjadi penerus bisnisnya. Untuk itu, ia menyekolahkan Huiyan hingga ke negeri George Bush, Amerika Serikat (AS). Di sana, Huiyan mengenyam pendidikan pemasaran dan logistik di Ohio State University. Setelah lulus dari universitas tersebut pada tahun 2005, Huiyan pun pulang kampung dan langsung bergabung dalam perusahaan sang ayah.

Tak sampai setahun kemudian, ia memperoleh hadiah transfer 58 persen saham Country Garden Holdings Ltd dari sang ayah. Transfer saham itu berlangsung ketika perusahaan properti ayahnya tersebut melakukan penawaran saham perdana (IPO) di bursa saham Hong Kong. Akibat "kejutan" itu, dalam semalam saja, Huiyan jadi wanita terkaya di China.

Pada waktu itu, Huiyan menjabat sebagai direktur eksekutif yang bertugas mengurusi bisnis logistik dan pengembangan perusahaan. Kemudian, Huiyan berhasil mengembangkan perusahaan warisan ayahnya itu menjadi perusahaan properti paling berpengaruh di China.

Country Garden sendiri adalah perusahaan properti yang berkantor pusat di provinsi Guangdong. Perusahan ini fokus pada pembangunan vila, ruko, dan apartemen-apartemen berukuran besar. Ayah Huiyan, Yang Guoqiang, lahir dari keluarga petani miskin di provinsi Guangdong, China bagian Selatan. la membangun kerajaan propertinya dari nol bersama beberapa rekan bisnisnya. (Diade Riva Nugrahani)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau