Alasan Buruk untuk Bolos

Kompas.com - 24/09/2008, 14:35 WIB

Telat bangun setelah begadang, malas menembus kemacetan, atau enggak ada semangat untuk ngantor, sering jadi alasan untuk bolos. Padahal, di balik rasa malas yang mendera, ada beberapa situasi umum yang kerap dihadapi oleh pekerja. Kalau mau sedikit usaha, kita bisa lho, menjalani pekerjaan dengan menyenangkan.

1. Bosan
Bosan dengan rutinitas pekerjaan, kesal karena atasan tak pernah memberi penugasan yang variatif, atau merasa tak ada tantangan lagi, sering menghalangi kita untuk segera bangun di pagi hari dan menyiapkan diri ke kantor. Bila hal ini sudah berjalan berbulan-bulan, saatnya untuk mengubah hidup Anda. Asah kemampuan Anda. Manfaatkan waktu di akhir pekan, sepulang kantor, atau bila memungkinkan full time, untuk mengikuti kursus keterampilan atau melanjutkan kuliah. Belajar akan meningkatkan rasa percaya diri untuk mengerjakan tugas-tugas.

2. Bos menyebalkan
Anda tak sendirian, menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Gallup Management Journal, Amerika Serikat, hampir seperempat karyawan di sana mengatakan akan memecat bos mereka jika punya kesempatan. Dan, 51 persen karyawan di sana berharap bisa menyingkirkan atasan yang menjengkelkan. Jadi, ke mana pun Anda pindah kerja Anda bakal menemui bos yang menyebalkan. Karena itu, singkirkan jauh-jauh pikiran untuk pindah kerja hanya karena kesal dengan sikap bos. Tunjukkan kinerja terbaik Anda sehingga Anda bisa segera mendapatkan promosi dan lepas dari "cengkeraman" bos tadi.

3. Tak bisa memenuhi deadline
Target pekerjaan yang tak terselesaikan sebenarnya sudah bisa Anda prediksi sejak jauh hari. Mungkin lebih nyaman jika Anda tetap bermalas-malasan di tempat tidur, tapi rekan kerja Anda pasti berharap Anda segera menyelesaikan bagian Anda. Untuk menghindari hal ini terulang kembali, buatlah rencana kerja yang matang atau mintalah bantuan dari rekan kerja atau atasan.

4. Karir terhambat
Meski sudah bekerja giat, hingga kini tak sedikit pun tampak titik terang Anda bakal segera dipromosikan. Rasa kesal dan putus asa memang bisa membuat hari-hari di kantor terasa menyiksa. Apalagi jika posisi yang sejak lama diincar justru jatuh ke tangan saingan Anda. Tapi, bagaimana atasan bisa melihat kompetensi Anda bila Anda lebih suka bermalas-malasan di rumah? Segera atur ulang strategi karir Anda dan tunjukkan citra yang positif di kantor.

5. Cuci mata ke mal
Tak punya cukup waktu luang untuk memuaskan hobi belanja atau jalan-jalan? Anda bisa, kok, melakukannya setelah jam kerja. Set alarm Anda satu jam lebih awal sehingga Anda bisa lebih pagi tiba di kantor dan pekerjaan selesai tepat waktu. Setelahnya, Anda bisa menikmati "happy hour" dengan santai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau