Korban Lehman di Indonesia Bertambah

Kompas.com - 25/09/2008, 09:49 WIB

JAKARTA, KAMIS — Jumlah korban Lehman Brothers di Indonesia bertambah. Kemarin, Standard Chartered Bank (Stanchart) Indonesia mengakui menempatkan dana milik nasabah maupun dana mereka di produk terbitan Lehman Brothers.

Kendati sudah mengaku menjual produk investasi Lehman ke nasabah di Indonesia, hingga kini Stanchart enggan membongkar berapa besar duit nasabah mereka yang terjeblos di produk Lehman. Stanchart juga belum menyebut produk Lehman yang mereka tawarkan ke Indonesia.

Senior Manager Stanchart Indonesia Arno Kermaputra mengaku, nilai investasi mereka tidak terlalu besar. "Kami memang menjual beberapa produk, tapi saat ini belum bisa memberikan komentar," kata Arno, Rabu (24/9).

Dia menjelaskan, Stanchart yang berpusat di London hanya menaruh investasi di Amerika Serikat tak lebih dari 10 persen total investasi. Stanchart juga menyebar investasi mereka di negara lain seperti di kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah, bahkan Amerika Latin.

Arno mengaku saat ini Stanchart masih mengidentifikasi berapa besar uang nasabah di Indonesia yang terdapat di Lehman. "Kami akan memberikan pemahaman mengenai situasi sekarang kepada nasbah, dan berusaha memberikan perlindungan kepada nasabah," janji Arno.

Namun, Arno tidak merinci apa bentuk perlindungan kepada nasabah itu. Bahkan Arno tak mau menyebut berapa banyak jumlah nasabah Stanchart Indonesia yang terkena dampak investasi Lehman.

BNI siapkan cadangan

Sementara PT BNI Tbk yang turut kejeblos surat utang Lehman senilai 7,8 juta dollar AS, masih menghitung nilai pasti kerugian yang mereka derita. Pengelola BNI juga mulai menyiapkan dana cadangan untuk kerugian di investasi produk Lehman.

Direktur Keuangan BNI, Yap Tjay Soen bilang, pengakuan pencadangan biaya akan dilakukan pada September ini juga. "Bulan September masih ter'sisa beberapa hari lagi. Jadi, kami masih memastikan berapa besar nilai cadangan yang diperlukan," jelas Yap.

Yap tak menyebutkan kantor luar negeri BNI mana yang melakukan investasi di Lehman. Yap juga tak banyak mengomentari apakah ada dana BNI yang tersangkut di perusahaan keuangan Amerika lainnya, seperti AIG, Merril Lynch, atau Washington Mutual. "Kami masih mengidentifikasi," kata Yap.

Beberapa bank dan asuransi di Indonesia memastikan tak terbelit surat utang dari Amerika Serikat. Daniel James Rompers, Wakil Presiden Direktur CIMB Niaga, mengatakan, "Kami tak menjual produk yang terkait dengan Lehman, kami sudah mendatanya," tegas Rompas.

Rudy Hamdani, Direktur Bank NISP juga memastikan bahwa semua produk investasi yang mereka tawarkan berbasis Surat Utang Negara (SUN) Pemerintah Indonesia.

Presiden Direktur Allianz Life Jens Reich juga memastikan Allianz Indonesia tidak terkena dampak apa pun dari kejatuhan Lehman Brothers, AIG, dan lain-lain. "Kami tidak memegang portofolio surat utang atau korelasi apa pun dengan perusahaan-perusahaan yang sedang terkena masalah keuangan tersebut," ujar Jens. (Nur Hidayat, Magdalena Sihite, Syarnsul Ashar)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau