Dicap Anti-Yahudi, Ahmadinejad Temui Yahudi

Kompas.com - 25/09/2008, 10:00 WIB

NEW YORK, KAMIS — Setelah dituduh mengeluarkan pernyataan anti-Semitis di PBB, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad bertemu dengan kelompok terpinggirkan ultra-religius Yahudi yang berusaha membubarkan negara Israel.

"Zionisme telah sangat lemah dan dengan kehendak Tuhan mereka akan hancur segera dan kemudian semua orang Yahudi, Muslim, dan Kristen dapat hidup berdampingan secara damai," kata Ahmadinejad di hadapan belasan rabi dari Neturei Karta International, Rabu (24/9) atau Kamis WIB.

Seperti dilansir Reuters, kelompok tersebut adalah organisasi kecil anti-Zionis. Mereka menyatakan organisasi itu berpegang teguh pada Taurat, kitab suci umat Yahudi, yang dikatakannya melarang berdirinya negara Yahudi sebelum kedatangan Imam Mahdi.  Kelompok tersebut mendukung kedaulatan rakyat Palestina atas Tanah Suci dan ganti rugi finansial atas kerugian pada masa lalu.

Pendapat itu tentu berlawanan dengan sebagian besar orang-orang Yahudi yang mengutuk pidato Ahmadinejad dalam sidang Majelis Umum PBB di New York, Selasa (23/9). Ahmadinejad mencerca para  Zionis dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum. Ia mengungkapkan, Zionis memengaruhi lembaga keuangan internasional. Ahmadinejad menuduh ada persekongkolan Yahudi dunia atas semua masalah di dunia.

Pada pertemuan Rabu dengan kelompok itu, yang juga memiliki nama bahasa Inggris "Jews United Against Zionism", Ahmadinejad mengatakan Zionisme adalah suatu gerakan politik yang mencari harta dan kekuasaan dan merusak Bumi. Belasan rabi yang memakai jubah hitam Yahudi ultra-Ortodok duduk di sekeliling meja bersama Ahmadinejad dan rombongannya dan berfoto bersama setelah pertemuan di sebuah hotel di Manhattan.

"Bahwa kami memiliki kehormatan dan hak istimewa untuk bertemu dengan orang terhormat yang mengerti perbedaan antara Zionisme dan Yudaisme bagi kami adalah suatu kesempatan yang sangat menyenangkan," kata rabi senior kelompok tersebut, Moshe Ber Beck, kepada Ahmadinejad.

Ahmadinejad mengatakan, Israel mesti dihapuskan dari peta dunia. Ia menuding Holocaust sebagai mitos dan pemerintahnya menyelenggarakan konferensi pada 2006 guna mempertanyakan fakta bahwa kaum Nazi menggunakan kamar gas untuk membunuh 6 juta orang Yahudi dalam Perang Dunia II.

Rabi Yistoel Dovid Weiss, juru bicara kelompok tersebut, mengatakan, Ahmadinejad bukan musuh rakyat Yahudi. Ia mengatakan, ribuan orang Yahudi tinggal di Iran tanpa gangguan dan Presiden Iran, itu bukan pembantah Holocaust. Ahmadinejad menilai Perang Dunia II secara umum sebagai "salah satu tindakan yang paling menjijikan" dalam sejarah. "Sejumlah kejahatan terjadi terhadap siapa saja," kata Weiss, melalui penerjemah.

Ahmadinejad mengakhiri pertemuan tersebut dengan berdoa bersama para rabi, dan mengatakan, "Tuhan, tolong gagalkan propaganda yang dilancarkan oleh kaum Zionis, dan biarkan mereka kehilangan harapan, dan berikan kemenangan untuk orang-orang yang patut menerimanya."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau