Pemilu 2009 Jadi Ajang Coba-Coba

Kompas.com - 25/09/2008, 11:01 WIB

BANDUNG, KAMIS - Sejumlah caleg dari beberapa partai politik di Jawa Barat mengaku hanya coba-coba dalam Pemilu 2009. Berbekal pengalaman berorganisasi di lingkungan kampung dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan di sekolah, mereka maju untuk menjadi caleg.

Elfin Sibarani, warga Pasteur, Kota Bandung, misalnya, selama hampir dua bulan ini disibukkan dengan persiapannya menjadi caleg dari Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme Jabar. Ia dicalonkan dari Daerah Pemilihan (DP) VII, yakni Kota Karawang dan Kabupaten Purwakarta. 

"Saya sudah lelah bergerombol dan berteriak di jalan-jalan, tapi tidak didengar. Saya mau mencoba berjuang melalui parpol," kata Elfin, Rabu (24/9) di Bandung.

Pengalaman pertama terlibat dalam parpol juga dikatakan Taufik Safrudin, lulusan sebuah perguruan tinggi di Bandung. Taufik yang kini aktif sebagai pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Barisan Nasional (Barnas) Jabar, maju sebagai caleg di tingkat provinsi dengan nomor urut dua dari DP IV, yakni Kota dan Kabupaten Bogor.

Pengamat politik Herman Ibrahim mengatakan, munculnya parpol baru membuka kesempatan lebih lebar bagi setiap orang untuk berpartisipasi dalam Pemilu 2009. Hal ini pertanda positif.

Meski demikian, di satu sisi keterbukaan itu membawa dampak negatif berupa buruknya kualitas caleg yang maju dalam Pemilu. Sebab, parpol umumnya belum memiliki kaderisasi yang baik. "Parpol menjadi lahan setiap orang untuk beradu nasib dan mendapat pekerjaan sebagai anggota legislatif," ujarnya.

Caleg yang maju, kata Ibrahim, sekadar coba-coba dan lebih karena motif ekonomi. Sementara perjuangan ideologi hanyalah menjadi lip-service.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau