BANDUNG, KAMIS - Sejumlah caleg dari beberapa partai politik di Jawa Barat mengaku hanya coba-coba dalam Pemilu 2009. Berbekal pengalaman berorganisasi di lingkungan kampung dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan di sekolah, mereka maju untuk menjadi caleg.
Elfin Sibarani, warga Pasteur, Kota Bandung, misalnya, selama hampir dua bulan ini disibukkan dengan persiapannya menjadi caleg dari Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme Jabar. Ia dicalonkan dari Daerah Pemilihan (DP) VII, yakni Kota Karawang dan Kabupaten Purwakarta.
"Saya sudah lelah bergerombol dan berteriak di jalan-jalan, tapi tidak didengar. Saya mau mencoba berjuang melalui parpol," kata Elfin, Rabu (24/9) di Bandung.
Pengalaman pertama terlibat dalam parpol juga dikatakan Taufik Safrudin, lulusan sebuah perguruan tinggi di Bandung. Taufik yang kini aktif sebagai pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Barisan Nasional (Barnas) Jabar, maju sebagai caleg di tingkat provinsi dengan nomor urut dua dari DP IV, yakni Kota dan Kabupaten Bogor.
Pengamat politik Herman Ibrahim mengatakan, munculnya parpol baru membuka kesempatan lebih lebar bagi setiap orang untuk berpartisipasi dalam Pemilu 2009. Hal ini pertanda positif.
Meski demikian, di satu sisi keterbukaan itu membawa dampak negatif berupa buruknya kualitas caleg yang maju dalam Pemilu. Sebab, parpol umumnya belum memiliki kaderisasi yang baik. "Parpol menjadi lahan setiap orang untuk beradu nasib dan mendapat pekerjaan sebagai anggota legislatif," ujarnya.
Caleg yang maju, kata Ibrahim, sekadar coba-coba dan lebih karena motif ekonomi. Sementara perjuangan ideologi hanyalah menjadi lip-service.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang