YOGYAKARTA, KAMIS - Satu hingga dua tahun lagi, rumah susun sederhana milik atau rusunami akan mulai dibangun para pengembang di Yogyakarta. Rusunami diyakini menjadi solusi terbaik guna menyiasati keterbatasan lahan, mahalnya harga tanah, dan mengurangi kemacetan lalu lintas.
Menurut Ketua Dewan Perwakilan Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) Yogyakarta Remigius Edy Waluyo, saat ini, pengembang kesulitan mencari lahan. Ditambah harga tanah yang sudah tidak lagi realistis, harga rumah ikut melonjak.
Akibatnya, lokasi perumahan yang sanggup dibeli makin ke pelosok. Karena itulah, pengembang di bawah REI sudah menjajagi rusunami, baik dari aspek lokasi maupun bangunannya.
"Dari sisi konstruksi, tidak ada masalah. Hal tersulit adalah mengubah kultur masyarakat yang konsep huniannya harus horisontal," ucapnya, Kamis (25/9).
Konsep hunian vertikal dari rusunami tentu butuh waktu untuk diterima. Jangankan rusunami, konsep rusunawa (rumah susun sederhana sewa) saja juga belum diterima penuh oleh masyarakat. Berbeda dengan rusunawa yang tidak bisa diperjualbelikan, rusunami persis seperti rumah biasa. Kalau bosan, pemilik bisa menjual huniannya.
Menurut Remigius, hunian dalam rusunami akan ditawarkan dengan harga standar. Hunian tipe 21 atau 36 misalnya, bisa mencapai harga minimal Rp 180 juta. Kelihatannya mahal, namun sebenarnya tidak. Sebab, konstruksi beton rusunami memang menyedot uang.
"Biaya per meter konstruksi saja minimal Rp 2,9 juta," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang