Pengacara Sugik Ogah Teruskan Persidangan

Kompas.com - 25/09/2008, 19:54 WIB

JOMBANG, KAMIS - Tim penasehat hukum terdakwa Maman Sugianto alias Sugik, yang didakwa membunuh Moh. Asrori, Kamis (25/9) melakukan protes dengan meninggalkan persidangan di Pengadilan Negeri Jombang. Sidang lanjutan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) itu akhirnya dilanjutkan tanpa kehadiran seorangpun pengacara Sugik.

Sebelum JPU menghadirkan saksi Agung Wibowo yang adalah kakak kandung Moh. Asrori, salah seorang penasehat hukum dari kantor penasehat hukum OC Kaligis&Associates, Narisqa sempat menanyakan apakah dakwaan tetap didasarkan pada korban Moh. Asrori. Setelah mendapatkan kepastian jawaban dari JPU bahwa dakwaan tetap didasarkan pada korban Moh. Asrori, Narisqa dan Slamet Yuono dari kantor penasehat hukum yang sama melakukan aksi walkout.

Meski ditinggalkan pengacaranya, sidang tersebut tetap diikuti kerabat keluarga Sugik. Bahkan hakim sempat mengusir keuarag Sugik dari ruang sidang karena dianggap mengganggu dengan membuat gaduh selama sidang berlangsung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau