Dalam Sehari Gary Mencopet Tujuh Handphone

Kompas.com - 26/09/2008, 06:45 WIB

MELIHAT gaya Gary (sekitar 5 tahun) di Polsek Matraman, Jakarta Timur, tidak ada yang akan menyangka tiga hari yang lalu dia masih menjadi anak jalanan. Pekerjaannya sehari-hari adalah mencopet handphone milik penumpang kereta api.

Namun, bila bergaul dengan dia beberapa waktu, kita akan menyadari dia sebenarnya bukan anak jalanan. Kemungkinan dia adalah korban penculikan yang kemudian dikaryakan sebagai pencopet.

Wajah bocah yang terlihat seperti keturunan Tionghoa ini semula mengaku tidak punya orangtua. Gary ditemukan oleh Juviano Aparicio, pemuda dari Timor Leste yang datang dari Yogyakarta dan hendak ke Kedutaan Timor Leste di Jakarta.

”Saya menemukan Gary jalan mondar-mandir di kereta Progo jurusan Senen. Lalu saya ajak dia saja. Saya curiga dia adalah korban penculikan,” kata Juviano. Saat ditanya, Gary semula mengatakan kedua orangtuanya sudah meninggal karena kebakaran. Rumahnya dulu berada di sekitar Stasiun Bekasi. Dia tidak tahu nama orangtuanya.

Tetapi setelah diajak ngobrol agak lama, Gary mengaku nama ayahnya Asun dan ibunya Yanti. Dia punya nenek yang tinggal di Tanah Abang. Kini Gary dirawat oleh Retno Widati, pemilik Sanggar Kayumanis yang juga pengusaha jamu dan pengobatan alternatif. Kepada Retno, Gary memanggil ibu. ”Ketika kami naik mobil yang ada AC-nya, dia langsung bilang AC-nya dingin ya. Berarti dia tahu AC,” kata Retno.

Selain itu, Gary juga bercerita ayahnya punya mobil Kijang warna hitam. ”Waktu mandi dia juga mengenal sabun cair. Kalau benar anak jalanan, dia tak akan tahu soal sabun,” ujar Retno. Selain itu, Gary juga ternyata mahir menggunakan sumpit. Dia bisa membedakan mana mi ayam yang enak dan mana yang tidak.

Retno telah memeriksakan Gary ke dokter, dan dokter tidak menemukan tanda-tanda kekerasan di tubuhnya maupun kekerasan seksual. ”Yang ada adalah kekerasan mental. Beberapa kali dia bicara kasar, jorok, dan tidak sopan,” jelas Retno.

Sementara itu, Kepala Polsek Metro Matraman Komisaris Kasworo mengatakan, kemungkinan besar Gary adalah korban penculikan yang kemudian dikaryakan sebagai pencopet. ”Sehari dia bisa mencopet tujuh handphone di kereta. Setelah itu handphone disembunyikan di kolong kursi kereta,” kata Kasworo.

Dia menambahkan, jika memang ada orangtua yang kehilangan anak, silakan datang ke Polsek Matraman. Jika memang tidak ada, Gary akan diserahkan ke panti asuhan. ”Diharapkan jika Gary berhasil bertemu orangtua sejatinya, bisa membantu kami mengungkapkan sindikat penculikan anak ini,” Kasworo menegaskan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau