Awas! Ranjau Darat di Jalur Mudik

Kompas.com - 26/09/2008, 07:44 WIB

 

Situasi jalan dan  lalulintas serta keramaiannya merupakan "ranjau yang berbahaya" bagi pengendara mobil. Bersikap ceroboh sedikit saja atau emosi pengemudi meletup, ritual pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri 1429H pun terlewatkan. Daerah berbahaya (danger zones) ada di mana-mana, tak cuma jalanan sepi, tapi juga kondisi ramai.

Pemicu kecelakaan itu, umumnya disulut oleh kecerobohan pengemudi. Ingin buru-buru sampai ke tujuan, menyalip pun sesukanya. Tak terkecuali di jalan lurus, bahkan di tanjakan maupun turunan, malah di tikungan.

Supaya perjalanan silaturahmi Anda aman dan nikmat, mungkin petunjuk di bawah ini bisa melancarkan sampai ke tujuan.

JALAN LEBAR
Dijumpai akan masuk atau meninggalkan kota. Pengemudi acap terbuai untuk tancap gas. Bila dari depan ada iring-ringan kendaraan, yang perlu dicermati bus dan truk. Mereka menyalip sesukanya dan kalau sudah keluar dari barisan sulit untuk masuk lagi. Bila dari kejauhan tampak bis atau truk sudah menyalip, segera kurangi kecepatan sambil memberi isyarat mainkan lampu.

MENYALIP

Di jalur lurus: bikin jarak 10 sampai 20 meter dengan kendaraan yang akan disalip. Keluarkan bodi sedikit untuk melihat situasi di depan, juga belakang melalui kaca spion luar. Jika aman, kasih sein dan bunyikan klakson sebagai tanda akan menyalip. Perhitungkan juga kendaraan dari arah depan, sebaiknya masih jauh ketika menyusul.
Di tikungan : Jangan sekali-sekali mendahului di tikungan, apalagi jalanannya menurun. Semisal tikungan ke kanan, pas saat menyalip datang kendaraan dari depan. Ketika berusaha untuk masuk ke dalam, bisa-bisa diserundul sama mobil yang disalip. Sedikit lebih aman jika menyalip di tikungan ke kiri. Sekiranya ada kendaraan dari depan, saat masuk ke dalam mobil yang di salip mengarah ke dalam juga. Tapi sebaiknya jangan menyalip do tikungan.
Tanjakan : Tidak dianjurkan menyusul di tanjakan yang situasi di depan tidak diketahui, terutama pagi sampai sore karena sulit mendeteksi kendaraan dari depan.

JALAN HILANG DI DEPAN (CILUBA)
Menghadapi jalan tanjakan, untuk mengetahui jalan di depannya ada dua petunjuk. Pertama, bisa mengamati jajaran tiang listrik. kalau setelah titik puncak langsung hilang, berarti menurun lurus. Jika tiangnya ke kiri berarti menikung ke kiri. Seumpama tak ada tiang listrik, bisa memanfaatkan rindangnya pepohonan. 

BAHU JALAN
UmumnyA kondisi jalanan ke luar kota tidak ada trotoar di kedua sisinya. Jangnan terlalu pinggi karena bila satu roda sampai terjauh, mobil akan oleng.Apalagi panik, bisa-bisa terguling.

TIKUNGAN NEGATIF
Umumnya tidak diketahui pengendara. Cirinya, semisal menikung ke kanan, jalur sisi luarnya (kiri) lebih rendah. Sangat berbahaya jika ketika keluar tikungan roda berada di posisi  luar menyebabkan mobil nyelonong.

BERGELOMBANG
Melintasi jalan bergelombang angkat pedal gas. jangan tekan pedal rem secara keras bisa bikin mobil menyelonong. Tidak disarankan menyalip, takut-takut mobil berpindah-pindah jalur dan pentalannya cukup kuat.

LUBANG
Kepergok tiba-tiba, jangan tekan pedal rem keras sampai roda mengunci. Begitu juga roda sampai menabrak lubang, jangan menghindar. Kebetulan ada motor di samping bisa langsung tabrakan. Juga mengerem ketika ban membentur lubang, bisa-bisa suspensi ambrol.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau