”Intan capai, ya? Enggak apa-apa capai dikit, kan mau ketemu nenek katanya,” kata Tahyudin (30) mencoba menghibur Intan sambil mengelus-elus kepalanya. Intan hanya tersenyum manja sambil meminta dibukakan kue perbekalan dari rumah.
Rehan (6), kakak Intan, juga santai di lantai. Ia memilih tengkurap sambil meletakkan kepalanya di lantai. Tangannya memainkan botol bekas tempat air mineral yang dibawa dari rumah.
Jumat (26/9), menjelang tengah hari, Tahyudin bersama istrinya, Vilanti (29), dan kedua anaknya sampai di Subang dalam perjalanan menuju Tegal, Jawa Tengah. Pada Jumat pukul 06.30 mereka berangkat dari Bekasi.
Di Cikampek, keluarga Didin (37), pemudik tujuan Tasikmalaya, pada Jumat pagi memilih beristirahat di sebuah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU). Bersama istrinya, Sunarsih (33), dan kedua anaknya, Dewi (7) dan Ahmad (5); di tengah jalan Didin bergabung dengan ribuan pemudik bersepeda motor lainnya. Rombongan ini berangkat sesaat setelah sahur.
Keluarga yang menyandarkan hidup di Jakarta itu tampak tak sungkan lesehan di pelataran SPBU yang dipenuhi pemudik. Dewi dan Ahmad menikmati makan pagi dari bekal yang dibawa ibunya dengan menu yang amat sederhana: nasi putih dan mi instan goreng. Kendati kelelahan, Dewi dan Ahmad tampak lahap dalam suapan ibunya.
Ekonomis
Gelombang pemudik menggunakan sepeda motor, baik yang berjalan sendiri-sendiri maupun yang tergabung dalam kelompok, mulai meninggalkan Jakarta pada Jumat. Akibatnya, kemacetan terjadi di banyak ruas sejak dari Jakarta hingga ke Cikampek. ”(Naik motor) Untuk menghemat ongkos soalnya kalau naik bus mahal,” kata Tahyudin menjelaskan alasannya mudik menggunakan sepeda motor. Perjalanan dari Bekasi ke Tegal menggunakan sepeda motor diperkirakan hanya akan menghabiskan bensin sekitar 6 liter atau Rp 36.000. Jika menggunakan bus, setiap penumpang harus membayar Rp 45.000 untuk rute Bekasi-Tegal.
Alasan yang sama juga diungkapkan Didin. Jika menggunakan bus, setidaknya keluarga Didin harus menyiapkan uang minimal Rp 200.000 untuk ongkos dan jajan anak-anak selama perjalanan dari Jakarta ke Tasikmalaya. ”Kalau membawa sepeda motor sendiri, uang Rp 120.000 untuk bensin dan jajan juga cukup,” kata Didin.
Memilih sepeda motor sebagai moda transportasi pada mudik Idul Fitri 2008 juga dikemukakan Parmin (41), peserta Mudik Bareng Honda 2008 tujuan Magelang, yang berangkat dari Sunter. Parmin yang berangkat bersama istrinya, Retno (38), cukup membayar uang pendaftaran Rp 37.500 karena mendapat fasilitas diskon. Keperluan mudik dijamin sampai ke tujuan. Mereka mendapat makan sahur, bensin selama perjalanan, asuransi, dan bantuan perbaikan sepeda motor jika ada kerusakan di tengah jalan.
”Terasa sekali (ekonomisnya) jika dibandingkan naik bus,” kata Parmin. Satu tiket bus jurusan Jakarta-Magelang harus ditebus dengan Rp 150.000 pada mudik Idul Fitri kali ini. Parmin dan istrinya bergabung dengan 1.823 pengendara sepeda motor yang mengikuti mudik bareng. Sebagian besar pengendara memboncengkan kerabatnya, tetapi terlihat juga beberapa pengendara yang sendirian.
Anak-anak banyak terlihat di tengah pangkuan ibu mereka saat mudik bareng. Padahal, panitia sudah menyediakan bus khusus untuk anak-anak dan ibu -ibu peserta mudik bareng. ”Anaknya takut pisah sama saya, jadi ogah naik bus,” kata Harso (34), pemudik tujuan Magelang.
Perjuangan
Kendati jauh lebih murah, mudik menggunakan sepeda motor ditempuh dengan perjuangan berat. Kompas menggunakan sepeda motor dari Jakarta hingga ke Cirebon bersama dengan para pemudik lainnya, yang menuju sejumlah kota di Jateng, Jatim, dan Yogyakar- ta.
Keluar dari Jakarta ketika matahari masih malu-malu, pemudik menikmati lancarnya arus lalu lintas. Selain belum terlalu ramai di banyak ruas, pengawalan polisi juga efektif menyibak titik-titik padat kendaraan. Masuk ke kawasan niaga Kalimas, Bekasi, rombongan pemudik terjebak kemacetan kendati sudah dalam dikawal polisi. Aktivitas masuk kerja di beberapa pabrik dan sempitnya badan jalan menjadi penyebab kemacetan itu. Setelah sempat lancar, perjalanan pemudik terhenti lagi di Tambun Timur. Kemacetan total terjadi karena lebar badan jalan tak cukup menampung pengendara dari dua arah.
Iring-iringan rombongan makin tak beraturan sesampai di pertigaan Cibitung, Bekasi, saat hari mulai terang. Pemudik tak lagi tergabung dalam kelompok akibat terpisah oleh kendaraan-kendaraan besar. Tanpa pengawalan polisi, para pemudik harus berjuang sendiri menyibak kemacetan jalan.
Masuk ke Karawang, perjuangan dimulai. Para pemudik harus berbagi jalan dengan bus dan truk besar yang kerap tak mau mengalah. Beberapa pemudik bersepeda motor bahkan sering harus turun dari badan jalan karena tak ada celah untuk mendahului bus atau truk. Di sana, kaidah-kaidah berlalu lintas sudah hilang. Siapa cepat dan berani, dia bisa mendahului.
Di Cikampek, rombongan besar pemudik beristirahat di tiga SPBU. Setelah lebih dari tiga jam perjalanan, Cikampek menjadi pilihan tempat istirahat yang pas. Masuk ke Subang, perjalanan makin berat. Terik siang mulai menyengat, demikian juga dengan hawa panas jalan.
Pemudik mulai kehabisan energi dan memilih menepi kendati baru sekitar satu jam perjalanan dari Cikampek karena jalan yang dilalui tidak rata. Kendati sangat tak nyaman, istirahat di bawah pohon sudah cukup menyingkirkan pemudik dari sengatan matahari dan panggangan uap panas jalan.
Mudik Idul Fitri bersama keluarga telah menjadi hajatan besar tahunan di Indonesia. Semangat silaturahim itu menjadi kekuatan pemudik untuk menaklukkan jalan yang ”tak bersahabat” di pantura.