Si Mbak Mudik Asyik Agar Balik Lagi (2)

Kompas.com - 27/09/2008, 11:13 WIB

LAIN lagi yang dilakukan Sri Haryati Sigit Soediono. Perempuan 51 tahun ini menawarkan mudik khusus bagi para PRT dengan bus eksekutif.

"Awalnya dari keprihatinan saya terhadap nasib para pekerja rumah tangga," kata wanita yang akrab disapa Cici yang selalu menyebut para PRT sebagai bagian dari pekerja rumah tangga. "Pekerja rumah tangga itu enggak hanya yang mengurusi rumah, tapi juga termasuk tukang kebun, sopir," katanya.

Tahun lalu, Cici membawa 4 PRT nunut mudik dengan mobil pribadinya. "Kebetulan saya bawa 2 mobil saat mudik ke Madiun. Ya sudah, mereka ikut sampai Ngawi dan Ponorogo," kata perempuan kelahiran Surabaya ini. Setelah itu, "Ternyata banyak kenalan yang minta PRT-nya diikutkan mudik," kata wanita yang aktif mengelola Griya Pensia di bilangan Jatiasih, Bekasi, ini.

Cici juga mengaku prihatin dengan minimnya perhatian pemerintah terhadap para pekerja rumah tangga ini. "Memang mereka mendapat THR dari majikan, tapi harga barang-barang kebutuhan kan juga naik? Begitu pula transportasi."

Kereta api kelas ekonomi, misalnya, memang paling murah, tapi biaya lainnya tidak kecil, mulai dari angkutan menuju stasiun/terminal sampai uang untuk para pengamen/pemalak di atas KA. Jadinya, sama saja mereka enggak pegang apa-apa," lanjut Cici yang khusus melakukan survei naik KA ekonomi Matarmaja jurusan Madiun.

Dari hasil surveinya, ia jadi tahu harga tiket KA Rp 43.000, tapi biaya yang harus dikeluarkan untuk pengamen, pengemis, dan pemalak mencapai Rp 63.000 sepanjang perjalanan. "Belum lagi angkot menuju stasiun, uang untuk makan, dan kalau lagi sial dijambret." Alhasil, besar biaya yang harus dikeluarkan hampir sama dengan jika para PRT itu naik bus atau KA kelas eksekutif.

Cici bersyukur niatnya membantu para PRT mudik dengan nyaman dan aman itu mendapat tanggapan positif dari salah satu perusahaan transportasi nasional. "Mereka menyediakan bus dengan potongan harga khusus," ujarnya.

Tahun ini, Cici menyediakan 2 bus AC masing-masing berkapasitas 24 tempat duduk. "Kami sengaja menyediakan bus eksekutif AC semata-mata juga untuk memanusiakan mereka."

Biaya yang dipatok untuk ikut program mudik ini adalah Rp 485.000 pulang pergi, yang ditanggung para majikan. Dua bus tersebut masing-masing dengan rute Jakarta-Solo-Madiun (berangkat 26 September-4 Oktober 2008) dan rute Jakarta-Bandung- Madiun (berangkat 29 September-4 Oktober 2008).

"Nah, dengan tiket pulang pergi ini mereka diharapkan mau balik lagi. Itu pun masih kami beri oleh-oleh dan makan." Dari biaya sekian itu, lanjut Cici, "Kalau memang ada kelebihan akan kami kembalikan dalam bentuk lain, misalnya bingkisan (doorprize). Contohnya, siapa yang pulang tepat waktu akan dapat doorprize. Ini bisa menjadi rangsangan dan keterikatan."

Sejauh ini Cici memang sengaja tidak mempromosikan mudik bersama ini secara besar-besaran. "Hanya kalangan terbatas. Itu pun karena para majikannya percaya saya. Jadi, yang saya kasih tahu pun hanya yang kenal saja," kata Cici yang berharap tahun depan bisa menambah jumlah bus dan menekan biaya.

"Saya berharap ada pihak yang peduli," kata Cici yang berharap pemerintah mau memberikan parsel bagi para PRT. "Jadi, para PRT itu benar-benar bisa menikmati Lebaran dan THR-nya."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau