Perampok Toko Emas Tewas Ditembak

Kompas.com - 27/09/2008, 22:15 WIB

SEMARANG, SABTU– Pelaku utama sekaligus otak perampokan toko emas Liem Williem Singgih alias We Shing (52) tewas ditembak mati petugas gabungan Kepolisian Daerah Jawa Tengah dan Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya, karena mencoba melawan saat hendak ditangkap. Polisi masih terus mencari anggota komplotan perampokan yang lain.

We Shing yang sudah dibuntuti petugas gabungan tersebut terakhir berada di indekost di Jalan Sidoluhur Surabaya Utara. Informasi tersebut didapat dari salah seorang saksi yang mengatakan ciri-ciri orang yang tinggal di rumah kos itu secara umum mirip We Shing.

Sabtu (27/9) pukul 09.00, polisi mendatangi rumah kos tempat tersangka tinggal bersama seorang perempuan bernama Rini (sekitar 30 tahun). Karena tidak kunjung menampakkan diri, polisi melepaskan tembakan peringatan kepada yang bersangkutan agar menyerahkan diri.

Kepala Bagian Operasional I Direktorat Reserse dan Kriminal Polda Jateng Ajun Komisaris Besar Nelson P Purba ketika dihubungi di Surabaya mengatakan, saat itu We Shing keluar sekitar pukul 09.30 dan mencoba melawan petugas dengan menembak. Bahkan hampir meledakkan granat aktif.

Karenaitu, petugas pun melancarkan tembakan sebanyak tujuh kali, sehingga mengakibatkan We Shing tewas seketika.

Jenazahnya segera dibawa ke RS Dr Soetomo Surabaya dan diotopsi di RS Bhayangkara Surabaya sebelum dikembalikan ke keluarga yang bersangkutan di Semarang. “Secara umum ciri-cirinya memang We Shing, tetapi kami juga harus menunggu hasil otopsi untuk memastikan kebenarannya,” kata Nelson.

Dalam insiden tersebut polisi juga menyita barang bukti berupa satu senjata api jenis scorpion magasen penuh, satu senjata api jenis pulpen, satu granat aktif, 30 butir peluru cadangan, dan 10 emas batangan. Dua orang yang berada di lokasi, Rini serta anak We Shing yang tinggal di kamar yang lain, Aldi, saat ini diperiksa polisi sebagai saksi.

Aldi diduga pernah membantu We Shing secara tidak langsung dalam perampokan, yaitu dalam mengamankan mobil milik tersangka dan membantu menyimpan barang bukti.

Polisi juga telah mendapat petunjuk atas pihak yang membantu tersangka mendapatkan senjata api yang digunakan dalam menjalankan aksinya. “Hal ini masih akan kami selidiki lebih lanjut. Termasuk pengejaran anggota komplotan yang lain,” kata Nelson.

Sejauh ini, polisi sudah menemukan 18 tempat kejadian perkara (TKP) perampokan di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bali oleh komplotan We Shing. Komplotan ini terakhir beraksi di Toko Mas Bintang Mas Kranggan di Kota Semarang pada 4 Juni 2008 dengan tiga orang korban meninggal dunia dan kerugian total Rp 30 miliar.

Komplotan perampok toko emas bersenjata api yang sangat terorganisir ini terdiri dari pelaku utama dan pelaku tambahan. Para pelaku utama adalah We Shing (tewas), Mulyanto alias Pipik, Abdul Adib alias Dipo (dalam pencarian), serta Roni Wijaya (tertangkap).

Pelaku lain yang masih dalam pencarian yaitu Thomas Joko Prayitno (Karanganyar), Yohanes Deny alias Didik (Kota Semarang), Eduard Agung alias Edo (Semarang), dan Eko Abdul Goni (Karanganyar). Sementara pelaku tambahan yang sudah tertangkap yaitu Febru dan Yehuda Wahono.

“Meski otak perampokan sudah tewas, kami masih akan melacak anggota komplotan yang lain lewat keterangan saksi dan anggota yang tertangkap,” ujar Nelson.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau