GARUT, MINGGU - Bersamaan luapan kendaraan dari arah barat ke timur, yang melintas Kecamatan Limbangan, Garut, pada puncak arus mudik Lebaran, warga setempat justru sibuk mengantri air bersih dan minyak tanah bersubsidi.
Camat Limbangan, U. Haeruddin, Minggu (28/9), menyatakan, sebagian besar dari 70.000 warganya dari 14 desa terpaksa kini melakukan antri untuk memperoleh air bersih di Mapolsek setempat. Hal itu dilakukan karena sumber-sumber air bersih lainnya banyak yang kering kerontang akibat kemarau panjang.
Kondisi ini juga diperparah dengan masih banya warga melakukan antrian minyak tanah bersubsidi di kios-kios meski dengan harga pembelian Rp 4.000 per liter.
"Mereka antri air bersih di Mapolsek Limbangan, karena di lokasi tersebut terdapat sumber air yang masih bisa diperoleh, sedangkan kolam-kolam penampungan air lainnya semakin menyusut menjadi warna hijau, namun terpaksa banyak digunakan mencuci piring dan pakaian," katanya.
Warga setempat pun banyak bergerombol antri minyak tanah bersubsidi di pangkalan dan kios-kios, menyusul kesulitan memperoleh gas elpiji berkapasitas 12 kilogram, dengan harga standar atau murah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang