Masyarakat Harus Proporsional Terhadap Produk China

Kompas.com - 28/09/2008, 13:04 WIB

BEIJING, MINGGU - Masyarakat di Indonesia hendaknya bersikap proporsional menyikapi produk impor makanan asal China terkait ditemukannya susu mengandung melamin, mengingat tak semua produk makanan mengandung susu terkontaminasi.

"Saya mengimbau agar masyarakat di Indonesia bersikap waspada tapi proporsional menyikapi makanan impor asal China. Karena tak semua produk makanan yang diimpor mengandung susu yang terkontaminasi," kata Dubes RI untuk China, Sudrajat, di Beijing, Minggu.

Sudrajat menyatakan hal itu menanggapi adanya kecenderungan masyarakat dan instansi di Indonesia yang tidak proporsional terhadap produk impor makanan China, yaitu dengan cara tidak mau mengkonsumsi semua makanan "yang berbau" China.

Ia menambahkan, dirinya bisa sangat memahami kekhawatiran masyarakat dan instansi di Indonesia dalam menyikap skandal susu terkontaminasi  di China. Akibat dari adanya kekhawatiran itu memang terjadi penurunan animo masyarakat untuk membeli dan mengkonsumsi makanan asal China, padahal Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sesungguhnya hanya melarang impor dan konsumsi produk asal China yang menggunakan susu terkontaminasi.

"Itupun sebenarnya ada dua jenis biskuit, yaitu ada yang dibuat di China dan ada biskuit yang dibuat di Indonesia. Masyarakat tampaknya masih syok dengan skandal susu di China dan mereka berpikiran daripada terjadi apa-apa, lebih baik enggan mengkonsumsi semua makanan dari China ," katanya.

Skandal susu terkontaminasi melamin itu, ungkap dubes Sudrajat, sesungguhnya hampir sama dengan kasus permen "White Rabbit" asal China yang dilarang masuk ke Indonesia karena mengandung formalin.

Dia juga menilai, adanya kasus ini sesungguhnya memang wajar dan merupakan gejala pasar, yang secara pelan-pelan akan pulih ketika pemerintah China melakukan perbaikan dengan cara memperbaiki sistem standarisasi dan keselamatan makanan.

"Memang perlu waktu untuk pemulihan dan itu adalah suatu risiko perdagangan serta suatu akibat dari pola pasar bebas," kata dubes.

Untuk itu, tegasnya, masyarakat diimbau harus mau membaca setiap kemasan dalam produk dan bersikap waspada karena tidak semua produk asal China tidak mengandung susu dan aman untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia.

"Sekali lagi saya berharap agar masyarakat di Indonesia bisa bersikap proporsional menghadapi kasus itu, karena tidak semua produk asal China terkontaminasi melamin sehingga aman dikonsumsi," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau