Kapal "Esperanza" Greenpeace Akan beraksi di Indonesia

Kompas.com - 28/09/2008, 16:05 WIB

JAKARTA, MINGGU - Kapal "Esperanza" milik kelompok pecinta lingkungan Greenpeace akan mengunjungi Indonesia pada 6 Oktober sampai 15 November 2008 untuk mengkampanyekan "Stop Penghancuran Hutan, Stop Penghancuran Iklim". Menurut Juru Kampanye Media "Greenpeace" Nabiha Shahab kapal yang dalam bahasa Spanyol berarti harapan itu akan tiba di Jayapura, Papua untuk menyoroti masalah pertahanan hutan alam asli terakhir di Indonesia.

"Hutan alam asli terakhir membentang dari Asia Tenggara, melalui Papua Nugini dan Kepulauan Solomon di Pasifik," katanya. Hutan alam asli terakhir, lanjutnya, terdiri atas hutan hujan tropis, hutan bakau, hutan pesisir, dan hutan gambut.

Di dalamnya terdapat spesies tumbuhan dan hewan yang luar biasa jumlahnya dan sebagian besar di antaranya tidak terdapat di bagian lain di dunia ini. Dalam hutan ini juga terdapat ratusan adat dan kebudayaan asli, katanya.

"Hutan Indonesia makin menyusut dengan kecepatan yang luar biasa. Penghancuran hutan merusak masyarakat, kebudayaan dan keanekaragaman hayati. Deforestasi juga melepas sekitar 20 persen dari emisi gas rumah kaca dunia tiap tahunnya dan menyumbang ke memburuknya perubahan iklim," kata Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Jumlah ini lebih banyak dari emisi dari mobil, truk, kereta api, kapal laut dan kapal terbang di seluruh dunia pada tahun 2004.

Di Indonesia, hutan gambut dihabisi oleh pembalakan, pengeringan dan pembakaran untuk memberi tempat bagi perkebunan kepala sawit. Di beberapa tempat, hutan gambut ini kedalamannya mencapai lebih dari 12 meter. Saat hutan gambut dibuka dan dibakar, hal ini bagaikan mengaktifkan bom karbon, dengan melepas hamper dua miliar ton karbondioksida yang berbahaya tiap tahunnya.

"Esperanza hadir di Indonesia untuk menyerukan pada pemerintah Indonesian untuk menerapkan moratorium secepatnya bagi semua bentuk konversi hutan, termasuk untuk penebangan industrial, ekspansi perkebunan kelapa sawit dan berbagai penyebab deforestasi," katanya.

Hal ini dibutuhkan untuk membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, melindungi kekayaan keanekaragaman hayati tropis dan melindungi kehidupan jutaan orang yang hidup dan bergantung pada hutan di seluruh Indonesia. Demikian kata Shailendra Yashwant, Direktur Kampanye Greenpeace Asia Tenggara.

"Esperanza" adalah kapal terbesar dalam armada Greenpeace yang diluncurkan pertama kali pada Februari 2002 saat kampanye penyelamatan hutan alam asli "Ancient Forests Save or Delete". Kapal dengan panjang 72 meter dan kecepatan maksimum mencapai 16 knot, dalam perjalanannya di Indonesia, akan dinakhodai oleh Kapten Madeline Habib.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau