BLT 58 Keluarga Dialihkan, Warga Protes

Kompas.com - 28/09/2008, 20:43 WIB

 

 

MADIUN, MINGGU - Warga Dusun Pepe, Desa Pajaran, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun memprotes kebijakan para tokoh masyarakat di dusun itu yang mengalihkan bantuan langsung tunai (BLT) bagi 58 keluarga ke keluarga lainnya. Padahal kondisi mereka masih miskin dan sangat membutuhkan BLT.

Protes warga ini dilakukan di rumah salah satu tokoh masyarakat di Dusun Pepe, Agus Supriyono, yang mengurus pembagian BLT bagi warga Dusun Pepe, Minggu (28/9). Selain Agus, di rumah itu sedang berkumpul lima ketua rukun tetangga di Pepe yang juga mengurus pendistribusian BLT.

Darsono, salah satu perwakilan warga, mengatakan pada pencairan BLT tahun 2008 ini sebanyak 58 keluarga di Pepe tidak menerima BLT. Padahal saat pencairan BLT tahun 2005 lalu, seluruh keluarga ini merupakan bagian d ari 101 keluarga di dusun itu yang menerima BLT.

Sebanyak 58 keluarga itu pun bingung mengapa mereka tidak lagi menerima BLT. Mereka tidak pernah diberitahu kemana larinya dana BLT yang seharusnya mereka terima lagi tahun ini, kata Darsono.

Agus Supriyono menjelaskan 58 keluarga ini tidak lagi menerima BLT tahun 2008 ini karena dirinya bersama lima ketua rukun tetangga dan dua anggota Badan Perwakilan Desa Pajaran telah menyepakati kalau BLT bagi seluruh keluarga ini dialihkan ke keluarga lain.

Pengalihan dilakukan karena ke-58 keluarga ini telah menerima BLT tahun 2005, ditambah lagi telah menerima bantuan dari program keluarga harapan yang diberikan Departemen Sosial pada tahun 2007.

Oleh karena itu, pada BLT tahun 2008 ini, kami sepakat mengalihkan BLT itu ke keluarga lain di Pepe yang kondisinya juga sangat membutuhkan bantuan. Kalau tidak begitu, keluarga lainnya akan iri, ujar Agus. Namun sampai saat ini, 58 keluarga pengganti itupun belum menerima BLT karena penggantiannya masih diproses pemerintah pusat.

Pernyataan ini membuat sejumlah keluarga penerima BLT yang dialihkan marah. Situasi semakin memanas setelah petugas Kepolisian Sektor Saradan mengeluarkan Darsono dari ruang pertemuan. Alasannya, Darsono bukan warga Pepe. Padahal setelah ditanyakan ke sejumlah warga, Darsono telah tinggal di Pepe lebih dari satu tahun lamanya.

Warga yang emosi kemudian ditenangkan oleh sejumlah petugas polisi, dan akhirnya warga membubarkan diri.    

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau