Tips Mudik Pakai Kereta Ekonomi

Kompas.com - 29/09/2008, 18:24 WIB

JIKA Anda masih merencanakan pulang mudik atau Anda yang akan balik ke kota tempat kerja menggunakan kereta ekonomi kelas ekonomi, beberapa tips berikut mungkin berguna. Anda mungkin akan berfikir antrian tiket yang panjang, penuhnya penumpang di kereta api ekonomi. Ditambah lagi semenjak H-10 hingga H+10, kelas ekonomi tidak memberlakukan pemesenan tiket dan membebaskan tempat duduk.

Dari beberapa pemudik yang diwawancarai Kompas.com di Stasiun Senen, Senin(29/9), ada beberapa tips yang bisa dicoba agar kita tidak terjebak oleh antrian yang panjang dan kesulitan mendapat tempat duduk karena saling berebutan. Mau tahu?  

1. Belilah tiket di stasiun kecil

Jika terbiasa membeli di stasiun besar seperti Stasiun Senen, Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Kota, disarankan jangan mengulanginya lagi karena selain lama dan berdesakan mengantri, juga harus datang lebih awal. Belum lagi kekecewaan yang selalu menghantui karena ketika didepan loket ternyata tiket telah habis.

Untuk itu, Anda bisa mendatangi stasiun-stasiun kecil yang dilewati kereta yang akan dinaiki. Sebagai contoh, Anda bisa mendatangi Stasiun Manggarai, Stasiun Jatinegara atau kalau perlu bisa mendatangi Stasiun Bekasi.

Kenapa demikian? Toh, dimanapun membeli tiket pasti akan mendapatkan tiket dan harga yang sama, yang penting masih berada dalam wilayah Jabodetabek. Dengan cara ini Anda telah meminimalisir masalah antrian tiket dibanding anda mengantri di Stasiun tempat kereta akan berangkat.  

2. Naik kereta sebelum KA tiba di stasiun pemberangkatan

Dari pada menunggu kereta di stasiun keberangkatan, ada baiknya Anda menunggu kereta di stasiun sebelumnya ketika kereta mengangkut penumpang menuju Jakarta.

Sebagai contoh, jika akan menuju Surabaya menggunakan KA Gaya Baru Malam yang berangkat pukul 12.00 siang dari Stasiun Kota, biasanya penumpang telah menunggu sejak pagi di stasiun tersebut. Sebaiknya ubah pola tersebut. Anda bisa menunggu kereta di Stasiun Jatinegara pada jam tujuh pagi di mana masih mengangkut penumpang dari Surabaya menuju Jakarta.

Setelah kereta itu tiba, naiklah dan carilah tempat duduk yang Anda inginkan. Dengan cara ini, walaupun sama-sama menunggu dari pagi, namun tidak perlu berebutan dan berdesakan mencari tempat duduk ketika kereta api tiba di stasiun tujuan.  

3.Naikilah terlebih dahulu di kereta makan

Kalau Anda malas atau tidak sempat menunggu kereta dari pagi, bisa juga mencoba cara ini. Ketika kereta datang, cari dan naikilah gerbong kereta makan dalam rangkaian kereta tersebut.

Setelah Anda menaiki gerbong tersebut jangan langsung cari tempat duduk, tetapi temuilah petugas kereta yang ada di sana. Tanyakanlah ada kursi yang kosong atau tidak. Jka ada, Anda bisa menempati kursi yang ditawarkan.

Namun, jika Anda duduk di gerbong ini harus merogoh kocek lebih. Biasanya Anda diberikan pilihan mengeluarkan Rp10.000 hingga Rp20.000 untuk petugas atau membeli salah satu hidangan yang disediakan di kereta tersebut.

Dengan cara ini, walaupun anda mengeluarkan kocek lebih tapi anda bisa sedikit menghindari desak-desakan dari penumpang lain dalam mencari tempat duduk.  

Tips tersebut memang tidak secara mutlak menghilangkan masalah antrian yang panjang dan kesulitan mendapat tempat duduk, tetapi kita bisa menghindari kebiasaan umum para penumpang kereta api ekonomi. Sebelumnya, cara ini juga digunakan oleh para pemudik lainnya. Selamat mencoba! (C12-08)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau