Pelaku Mutilasi Tantang Polisi

Kompas.com - 30/09/2008, 05:39 WIB

JAKARTA, SELASA-SEBANYAK 13 potongan tubuh manusia ditemukan di bus kota di kawasan Tugas, Jakarta Timur, Senin (29/9) sore. Pelaku mutilasi ini lebih keji daripada Ryan, pelaku mutilasi di Depok dan pembunuhan 10 orang di Jombang. Selain itu, dia sepertinya sedang menguji polisi.

Menanggapi kasus mutilasi 13 di Tugas, Jakarta Timur, ini pakar psikologi forensik Reza Indra Giri Amriel mengatakan ada dua kemungkinan terkait aksi sadis itu. Kemungkinan pertama, kasus ini adalah copy cat criminal atau meniru kejahatan yang sedang jadi pembicaraan orang banyak. Kemungkinan kedua, pelaku sedang menantang polisi adu pintar. "Untuk kasus ini, ada dua kemungkinan yaitu faktor copy cat criminal dan menguji kecerdasan pihak berwenang," ujar Reza kepada Warta Kota, Senin malam.

Korban mutilasi 13 adalah seorang pemuda dengan tato kepala macan di lengan kanan. Potongan-potongan tubuh itu terdiri atas telapak kaki kanan dan kiri, lengan kanan bertato macan, tangan kanan tanpa jari, kemaluan, badan sebatas leher hingga pangkal paha, kulit dada kanan dan kiri, dan kulit punggung. Bagian tubuh lain, termasuk kepala dan telapak tangan, tak ditemukan di lokasi tersebut. Organ bagian dalam seperti jantung, ginjal, dan hati juga tak ada.

Kasus mutilasi ini ditangani Polsektro Cakung, Jakarta Timur, karena lokasi penemuan 13 potongan tubuh tersebut termasuk wilayah Kecamatan Cakung. Kanit Reskrim Polsektro Cakung, Iptu Bambang Cipto, mengatakan potongan atau sayatan pada tubuh korban sangat rapi sehingga pelakunya diperkirakan orang yang lihai. "Kami tidak menemukan darah di kantong plastik, kami menduga pelaku telah mencuci potongan-potongan tubuh ini. Jika dilihat di bekas potongan, diperkirakan proses mutilasi dilakukan sehari dua hari ini. Namun, terlalu dini bagi kami untuk mengatakan motifnya, ini masih gelap," ungkap Bambang, kemarin.

Bambang mengatakan, pencucian potongan-potongan tubuh dilakukan untuk menghilangkan bau amis dan tetesan darah untuk kepentingan pembuangan tubuh korban. Dia juga mengatakan, korban diperkirakan pria dewasa dan berkulit putih. Bambang berharap tato kepala macan di lengan kanan korban bisa mengungkap jati diri korban. "Untuk itu, masyarakat yang punya saudara yang punya tato macan di lengan kanan dan sudah beberapa hari hilang, bisa mendatangi Polsek Cakung atau ke RSCM, sebab cuma tato macan ini satu-satunya ciri khas mayat tersebut," kata Bambang.

Bambang menduga, korban dihabisi di luar wilayah Cakung namun dibuang di wilayah Cakung. Penyelidikan kasus mutilasi ini juga melibatkan Polrestro Jakarta Timur dan Polda Metro Jaya.

Wanita muda

Potongan-potongan tubuh pria bertato macan ini ditemukan Alung (29), kernet bus kota Mayasari Bakti P64 nopol B 7357 BK jurusan Pulogadung-Kalidere s. "Sekitar jam empat sore, kami sampai di Pulogadung dan setelah semua penumpang sudah turun, kami isi solar. Habis itu, kami istirahat di taman di dekat pom bensin di Tugas," katanya.

Yosep, sopir bus tersebut, turun dan ngobrol dengan Elob Dahlan, sesama sopir, di taman. Sedangkan Alung naik lagi ke bus untuk memeriksa bus. Di bawah kursi baris keempat, Alung menemukan dua bungkusan plastik warna merah. Ketika memegang bungkusan itu, Alung menduga isinya daging karena bungkusan itu terasa lunak. Dia mengira bungkusan itu barang milik penumpang yang tertinggal.

Alun lantas berteriak kepada Elon ada daging tertinggal di bus. "Waktu itu, Bang Elon bilang sudah bawa turun saja!" katanya. Bungkusan itu dibawa ke taman dan diperiksa bersama-sama. Menurut Alung, ia dan Yosep serta Elon terkejut bukan main ketika membuka salah satu bungkusan dan mendapati potongan telapak kaki manusia dan alat vital pria.

Alung dkk lantas melapor ke petugas satpam pompa bensin yang kemudian diteruskan ke polisi. Menurut Alung, seingat dirinya, penumpang di kursi baris keempat itu adalah seorang wanita muda, seorang lelaki, dan seorang wanita setengah tua. "Yang wanita muda duduk dekat kaca, yang di tengah laki-laki, dan yang paling kiri wanita tua," ujarnya.

Alung tidak ingat persis di mana ketiga penumpang itu naik namun ketiganya turun di Pulogadung. "Saat saya mondar-mandir narik ongkos, mereka tidak saling bicara, makanya saya menduga mereka tidak saling kenal," imbuhnya.

Titisan iblis

Mengenai kasus mutilasi 13 ini, pakar psikologi forensik Reza Indra Giri Amriel lebih jauh menjelaskan, apabila kasus mutilasi ini copy cat criminal, si pelaku adalah orang yang agresif. Mutilasi tersebut dilakukan karena terinsipirasi berita di media massa yang menguraikan suatu tindak kriminal dengan detail.

Pelaku yang seperti ini cenderung mengincar kaum marjinal seperti anak jalanan maupun preman. "Pembunuh seperti ini memiliki keyakinan bahwa dirinya adalah manusia yang diutus oleh Tuhan untuk menumpas begundal jalanan. Dia beranggapan bahwa mereka adalah titisan iblis yang harus ditumpas," kata Reza.

Pada teori kedua, yakni pelaku mutilasi adalah orang yang sedang menguji polisi, korban yang diincarnya adalah orang baik-baik. Menurut Reza, pelaku mutilasi pada teori kedua melakukan aksinya untuk mengadu kecerdasan lawan polisi dan dia bukanlan orang sembarangan karena, bisa jadi dia adalah orang yang terpelajar dan memiliki keahlian khusus, misalnya keahlian bedah sehingga dia sanggup memutilasi korbannya dengan rapi. "Pembunuh tipe ini biasanya akan mendemonstrasikan hasil 'kerjanya' dengan meletakkannya di tempat umum sehingga orang di lokasi penemuan mayat itu bisa menyaksikan. Padahal bagi orang awam perbuatan tersebut adalah tindakan yang tidak lazim," kata Reza.

"Pelaku mutilasi ini bisa jadi seorang yang cerdas. Jika pelaku tidak tertangkap, beberapa pekan ke depan akan ada korban mutilasi lagi yang ditemukan di tempat umum, se-perti di terminal dan kendaraan umum," imbuhnya. Pada saat itu, ada kemungkinan si pelaku ada di antara massa yang mengerumuni si mayat korban mutilasi.

Pada Juli 2007, mayat bocah belasan tahun korban mutilasi ditemukan di dekat Pasar Klender, Cakung. Organ dalam bocah itu juga tidak ada. Sementara itu, pada 15 Mei 2008, bocah korban mutilasi dan tanpa kepala ditemukan di kolong bus kota yang parkir di Terminal Bus Pulogadung. Hingga saat ini, kedua kasus tersebut belum terungkap. (Ded/Get)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau