Cerita Duka Sumiati Menjelang Lebaran

Kompas.com - 30/09/2008, 17:17 WIB

HARI Raya Idul Fitri atau Lebaran mestinya identik dengan perasaan suka-cita, karena manusia telag kembali kepada fitrahnya yang suci setelah sebulan bertarung dan akhirnya menang atas segala nafsu. Akan tetapi, perasaan suka cita itu tampaknya justru yang hilang dari sejumlah warga yang tinggal di kawasan Pedongkelan, dekat Danau Ria Rio, Jakarta Timur.

Mereka yang tinggal di RT 02 dan RT 03 di RW 15 Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur itu kini sedang resah, gelisah, dan diliputi kesedihan atas ketidakjelasan nasib dan masa depannya.

Selain karena rumah mereka habis terbakar awal Agustus lalu, mereka kini bahkan terancam akan digusur. Surat peringatan kedua sudah mereka terima bahwa Pemerintah Kota Jakarta Timur akan menggusur permukiman mereka sehabis lebaran.

Atas rencana penggusuran itu, mereka juga mengaku sudah menerima uang kerohiman alias uag saku pindah sebesar Rp 1 juta per keluarga. "Jangankan buat beli baju baru, atau jajanan untuk menyambut lebaran, buat makan sehari-hari saja masih kurang," kata Sumiati (37), salah satu warga Pedongkelan yang terancam digusur.

Kini, Sumiati, ibu empat anak itu, bersama ratsuan warga lain di kawasan itu seakan tercekam dan tak bisa tenang menghadapi Idul Fitri. Batas waktu 5 Oktober agar warga membongkar sendiri rumahnya benar-benar menghantui. Tidak terbayang kalau sampai gubug yang sebenarnya tak layak huni yang dia bangun susah payah pascakebakarn itu nantinya benar-benar digusur.

Sampai dengan hari ini, Selasa (30/9), dia mengaku belum mendapatkan kontrakan atau rumah singgah sementara yang dapat menampung seluruh anggota keluarganya. "Saya sudah keliling cari kontrakan dan kos, tapi belum dapat juga. Padahal abis lebaran buldozer sudah bersiap menuju kemari," ucap Sumiati gundah.

Sebenarnya, tempat tinggal Sumiarti dan beberapa warga yang tinggal di Pedongkelan sudah hangus dilalap api sebulan lalu, tepatnya 7 Agustus 2008. Sekarang, beberapa keluarga tersebut tinggal dengan mendirikan semacam gubuk, karena bangunan tempat tinggal mereka amat memprihatinkan.

Rumah yang ditempati Sumiati dan keluarganya, berukuran tidak lebih dari 3 X 3 meter persegi. Atap rumah terbuat dari terpal plastik berwarna biru yang disangga beberapa kayu sisa kebakaran. Sedangkan dinding untuk pelindung dari terpaan angin terbuat dari spanduk iklan salah satu produk minuman suplemen. Lantainya yang biasa dia gunakan sebagai tempat melepas lelah hanyalah plastik terpal berwarna putih.

Dalam rumah yang teramat sederhana tersebut tinggal delapan orang, yakni Sumiati, empat orang anaknya, satu menantu, serta dua orang cucu. "Beginilah keadaannya, jauh dari kesan layak untuk hidup. Meskipun begitu, masih tetap saja mau digusur oleh pemerintah," lanjut Sumiati.

Untuk menunjang biaya hidup sehari-hari, Sumiati dibantu oleh anak-anaknya membuka warung nasi kecil-kecilan di samping gubuknya. "Lumayan lah, buat menunjang makan keluarga. Karena setiap hari untungnya bisa sampai Rp 50.000," tutur wanita yang sekarang berstatus sebagai janda ini.

Rencananya, pemukiman warga liar di dekat Danau Ria-Rio itu akan digunakan sebagai daerah resapan air, dan tempat pariwisata. (C11-08)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau